Materi Mukernas & Konferensi Nasional Forum Satuan Pengawasan Intern (FKSPI) II 2017- Bali 23 s/d 25 Agustus 2017

Materi Mukernas & Konferensi Nasional Forum Satuan Pengawasan Intern (FKSPI) II 2017 – Bali 23 s/d 25 Agustus 2017

  1. 01-Kerangka Materi-Konferensi Nasional FKSPI BUMN_D Tahun 2017-Bali_Agustus 2017 .
  2. 02-Ignasius Jonan-Keynote Speech MESDM pada Mukernas & Konferensi Nasional II FKSPI 2017 .
  3. 03-M.Yusuf – Irjen KKP- Pencegahan Fraud & Korupsi pada Korporasi .
  4. 04-Otto Hasibuan – Turbulensi Dalam Tindak Pidana Korupsi .
  5. 05-Prof Sulistiowati – Gurubesar FH UGM-TANTANGAN PERAN SPI DALAM ERA HOLDINGISASI BUMN .
  6. 06-Aloysius K Roo – Kementerian BUMN- Peran Internal Audit dalam Holding BUMN .
  7. 07-Hari Setianto 1 – Pres IIA Indonesia -The New IPPF .
  8. 08-Hari Setianto 2-The New IPPF What to Expect -IIA -global-new-IPPF-2015 .
  9. 09-Wahyu Wijayanto – IA Pertamina – Envolving Roles of IA Function .
  10. 10-SIPPAI_Rev Oct 2016_IPPF-Standards-2017-Indonesian .
  11. 11-IPPF-Standards-Exposure-Survey-Results-Presentation-IIA 2016 .
  12. 12-Getting to Know Internal Auditing_The Profession that Makes a Difference_2016_IIA
  13.  13-PP_NO_72_2016_Tatacara Penyertaan & Penatausahaan Modal Negara pada BUMN dan PT
Advertisements

Materi Konvensi Nasional Akuntansi (KNA) ke 8 & Regional Public Sector Conference (RPSC) ke 4, Bandung, 8-9 Desember 2016

Materi Konvensi Nasional Akuntansi (KNA) Dan Regional Public Sector Conference (RPSC), Bandung, 8-9 Desember 2016 :

I. Konvensi Nasional Akuntansi (KNA) Ke 8 :

  • Hari I, 8 Desember 2016.

  1. Chairul Tanjung-Proyeksi Bisnis tahun 2025 & Era Digital Reporting .
  2. Mark Billington- The World in 2025 How Should CA Prepare .
  3. Sidharta Utama-Pathways to Growth Changing With the Times .
  4. Kemenkeu-Partisipasi Wajib Pajak Profesi tertentu dlm Amnesti Pajak
  • Hari II, 9 Desember 2016.

    • Concurrent Session A  (Internal Auditing) :
      • Graham Divers – Ethics & ProfessionalismGraham Divers
      • Emil Bachtiar – Kode Etik Akuntan Profesional. Emil Bachtiar
      • Saguh – The Roles of Internal Auditor in Global Competitive EraSaguh
    • Concurrent Session B (Perkembangan terkini MRA Jasa Akuntansi):
      • Jusuf Wibisana – Akuntansi Repo & Lindung Nilai SyariahJusuf Wibisana
    • Concurrent Session C (Akuntansi Keuangan Update Perkembangan PSAK dan IFRS 2016) :
      • Lianny Leo- Update Perkembangan Standar Pelaporan Akuntansi KeuanganLianny Leo
      • Diskusi Pajak : Darussalam – Menakar Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi AEoIDarussalam
    • Perubahan Landscape Profesi Akuntansi di Indonesia :
      • Daniel Setiawan- Perubahan Landscape Profesi AkuntansiDaniel .
      • Rosita Uli Sinaga- The Changing Landscape of Accounting Profession in IndonesiaRosita

II. Regional Public Sector Conference (RPSC) Ke 4 :

  • Hari I, 8 Desember 2016.

  • Talkshow :
    • Sapto Amal Damandari-Wakil Ketua BPK RI –  Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara Untuk Kesejahteraan Rakyat: Sinergi BPK, APIP, Dan KAP Untuk Mewujudkan Tujuan Bernegar. Waka BPK RI – Sapto Amal D-Sinergi BPK dengan APIP dan KAP .
    • Pointers Mendagri – Tjahyo Kumolo- Akutabilitas Akuntansi Berbasis Akrual.  Tjahyo Kumolo .
    • Iwa Karniwa-Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat- Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara untuk Kesejahteraan rakyatIwa Karniwa .
    • Irjen Pol Muktiono – Sinergitas Pemberantasan Korupsi. Irjen Pol Muktiono
  • Panel Sesi 1 :
    • Mark Hucklesby- National Technical Director Grant Thornton New Zealand – The Implementation of Accrual Accounting in the Public Sector – New Zealand’s Experience .  Mark Hucklesby .
    • Graham Divers- Director Public Sector Development- Implementation of Accrual Basis of Accounting in Public Sector. Graham Divers-2 .
    • Binsar Simanjuntak – Chairman of Working Committee Government Accounting Standards Committee- The Role of Government Accounting Standards Committee (KSAP) in Supporting the Implementation of Accrual Accounting in Indonesia. Binsar Simanjuntak
  • Panel Sesi 2 :
    • H. Irwan- Wakil Ketua Bidang Keuangan Daerah APKASI Bupati Kepulauan Meranti –  Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah. H Irwan-APKASI .
    • Bambang Pamungkas- Laporan Keuangan Pemerintah Daerah  Basis Akrual. Bambang Pamungkas .
    • Benyamin Davnie- Wakil Walikota Tangerang Selatan- Penerapan Akuntansi Berbasis akrual di Pemerintahan Kota. Benyamin Davnie .
    • Reydonnizar  Moenek- Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri. R Moenek
  • Hari II, 9 Desember 2016.

  • Panel Sesi 3 :
    • Kemendes Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi (PDTT) – Peran Pendamping Desa Dalam Meningkatkan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa. Kemendes PDTT .
    • Wartono- Kades Majasari , Indramayu Jawa Barat-– Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Dan Pembangunan Desa Di Desa Majasari. Wartono

(sumber :  http://iaiglobal.or.id/v03/materi-publikasi/materi-71 )

Prospek Industri Dan Peningkatan Mutu Kantor Jasa Akuntansi (KJA)

Prospek Industri Dan Peningkatan Mutu Kantor Jasa Akuntansi (KJA) :

1. PPPK – INDUSTRI JASA AKUNTANSI DAN PENINGKATAN JASA & KUALITAS KJA PPPK

2. Sharing Donny – Prospek KJA Kedepan

3. Sharing Andriansyah – akuntan vs puzzle

3. Sharing Andriansyah – Errors Trial Balance sekalipun sudah Balance

4. Sharing Feroza – KJA_Langgeng_Present_16_Jan_2017

5. IAI – Pengendalian Mutu (Final)

5. Sharing Febri – Usaha dalam Kantor Jasa Akuntansi

( sumber : http://iaiglobal.or.id/v03/materi-publikasi/materi-73  )

Peraturan Menteri Keuangan RI No 216/PMK/01/2017 tgl 29 Desember 2017 tentang Akuntan Beregister

Peraturan Menteri Keuangan No 216_PMK_01_2017 Tgl 29-12-2017 ttg Akuntan Beregister

Sekilas Info tentang Certified Risk Management Professional (CRMP)

A. OVERVIEW CRMP

Bagi suatu Organisasi, adanya kegiatan Manajemen Risiko akan menyediakan suatu tingkatan assurance yang wajar dalam memastikan terealisasinya tujuan organisasi. Oleh karena itu Manajemen suatu Organisasi wajib menerapkan manajemen risiko dalam menjaga kesinambungan usaha mereka dengan memastikan kecukupan kerangka kerja manajemen risiko, infrastruktur manajemen risiko dan yang terpenting adanya kecukupan tenaga profesional di bidang manajemen risiko baik secara qualitas maupun kuantitas.

Oleh karena itu diperlukan suatu standarisasi kompetensi profesi manajemen risiko non- Perbankan agar para profesional didalam bidang manajemen risiko yang bekerja diberbagai sektor industri dan Organisasi memiliki drajat kecakapan dan kemahiran manajemen risiko yang cukup dan terukur, sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik bagi Organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya. Dalam penugasannya, profesi Manajemen Risiko harus meyakinkan terdapatnya aktivitas manajemen yang dapat memberikan keyakinan yang wajar bahwa tujuan Organisasi akan dapat dicapai sehingga nilai Organisasi secara keseluruhan bertambah. Tujuan dari profesi Manajemen Risiko adalah memberikan reasonable guarantee pada suatu Organisasi untuk meningkatkan probabilitas pencapaian tujuan organisasi .

Certified Risk Management Professional (CRMP) dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan tenaga profesional di bidang manajemen risiko di sektor rill ataupun organisasi Pelayanan Publik, CRMP telah terdaftar di Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Manajemen Risiko, yang disingkat LSPMR, didirikan pada awal tahun 2008 sebagai wujud kolaborasi dari berbagai organsisasi yang memiliki komitmen dalam mengembangkan kompetensi, dan kecukupan jumlah profesional di bidang Manajemen Risiko non-perbankan. Keanggotaan LSPMR terdiri dari beberapa individu yang mewakili dari berbagai unsur misalnya: dari Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI), Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Unsur Pendidikan tinggi yaitu Sekolah Tinggi Manajemen PPM, dan keterwakilan dari asosiasi profesi Manajemen Risiko Indonesia IRMAPA (Indonesian Risk Management Professional Association). Dewan pengurus juga meliputi tokoh-tokoh Praktisi dan Akademisi dari berbagai institusi lainnya yaitu : Ikatan Akuntan Indonesia kompatermen Manajemen (IAI-KAM), Departemen Keuangan Republik Indonesia (Depkeu RI), Lembaga Komisaris dan Direktur Indonesia (LKDI) dan BP MIGAS yang dipilih berdasarkan kompetensi mereka dalam bidang Manajemen Risiko dan komitmennya untuk mengembangkan profesi Manajemen Risiko di Indonesia.

Garis Besar Program Certified Risk Management Professional (CRMP*)

1. Pembinaan Kompetensi

  • LSPMR telah menjalin kerjasama dengan beberapa Asosiasi, Institusi dan Profesional Manajemen Risiko dan secara bersama-sama kolaborasi ini telah membuat rumusan yang terstruktur dalam pembinaan kompetensi bagi para profesi di bidang manajemen risiko. Salah satu bentuk pembinaan tersebut adalah seperangkat pelatihan untuk meningkatkan nilai tambah yang tinggi dari keberadaan Profesi Manajemen Risiko secara terus menerus. Pelatihan tersebut terdiri atas pelatihan kompetensi dalam rangka menuju sertifikasi (entry level-exam prepatory), dan pemeliharaan kompetensi dalam bentuk Pendidikan Profesi Lanjutan (Continuing Professional Education). Para pemegang gelar Sertifikasi wajib memiliki 20 jam pelatihan lanjutan per tahun, atau setidaknya 40 jam untuk masa 2 tahun. Pelatihan dan ujian yang dikembangkan adalah hasil kolaborasi berbagai ahli Manajemen Risiko, Akademisi dan Praktisi dari berbagai industri dan Lembaga Keuangan Non-Perbankan.
2. Harmonisasi Pembinaan Kompetensi
  • Dalam menjaga kualitas dan profesionalisme para penyandang Sertifikasi Manajemen Risiko secara khusus dan para profesi di bidang Manajemen risiko secara umum, LSPMR telah dan akan menjaga keharmonisan dari berbagai unsur pemangku kepentingan Manajemen risiko, sehingga akan tercipta suatu platform yang mampu menjadi pemersatu atau hamonisasi praktik Manajemen Risiko yang baik di Indonesia. Dalam jangka panjang LSPMR akan memperluas basis pemangku kepentingan agar para pemegang sertifikasi LSPMR dapat berkontribusi dan memberikan nilai tambah kepada masyarakat luas.

B. SYARAT PESERTA UJI CRMP :

  • Mengikuti Ujian Profisiensi Tertulis dan Competency Based Assesment (presentasi & interview)
  • Ujian hanya bisa diikuti oleh peserta yang sudah mengikuti 40 jam pelatihan persiapan (tutorial) ujian  sertifikasi CRMP  sebelum  mengikuti ujian sertifikasisesuai modul yang telah ditetapkan LSPMR.

Bila Peserta yang tidak mengikuti  hingga 2 Sesi Pelatihan dalam satu materi/modul yang sama, tidak diperkenankan  untuk mengikuti ujian atas modul tersebut saja, dan bila/atau tidak  mengikuti pelatihan hingga lebih dari 3 sesi pelatihan atas materi/modul yang berbeda, juga tidak diperkenankan mengikuti keseluruhan ujian Sertifikasi LSPMR.

  • Minimal Sarjana S1 ( Semua Jurusan ) atau setara.
  • Mempunyai pengalaman kerja minimal 3 tahun dalam bidang Risiko atau yang terkait

C. TATA TERTIB UJI TERTULIS CRMP :

  • Setiap pergantian modul ujian tertulis diberikan Istirahat selama 5 menit
  • Peserta ujian  tertulis duduk terpisah masing-masing 1 Meja 1 kursi setiap orang.
  • Peserta Ujian tidak diperkenankan berbicara/mengganggu  satu dengan yang lain.
  • Peserta ujian tidak diperkenankan membawa keluar ruangan ataupun membawa pulang naskah ujian.
  • Bagi peserta yang telah selesai lebih dahulu selesai , dapat langsung beristirahat dan menyerahkan soal ujian kepada  petugas pengawas ujian.

D. TATA TERTIB UJI PRESENTASI/WAWANCARA CRMP :

  • Peserta sudah harus siap dengan materi Presentasi dalam format Power point (Minimal 5 slide, dan Maksimal 10 slide)
  • Peserta akan  mendapat giliran wawancara/Presentasi berdasarkan schedule interview yang akan diberikan oleh LSPMR selambat-lambatnya 1 (satu)hari sebelum assesment dilakukan.

E. UJI CRMP : 

Pada Ujian Sertifikasi CRMP akan diadakan  ujian tertulis untuk setiap Modul, kecuali untuk ModulCase Studydimana ujian dibuat secara komprehensif,dan dilakukan Uji Kompetensi berupa presentasi dan wawancara (Competency Base Assesment / CBA)

Hasil Ujian terdiri atas kategori sebagai berikut :

  • Lulus Murni
  • Belum Berhasil
  • Lulus dengan catatan harus mengikuti kelas review/Pemantapan (Ini hanya khusus berlaku bagi uji kompetensi – presentasi/wawancara untuk modul Case Study)

Kepada seluruh peserta hanya diperkenankan mengikuti ujian ulang maksimal 2 kali, apabila belum berhasil pada ujian pertama (Passing Grade kelulusan score : 65). Hal ini juga berlaku untuk CBA.

F. SILABUS  TUTORIAL CRMP :

MODUL I

  • Session 1 & 2 : Enterprise Risk Management & Good Corporate Governance

MODUL II

  • Session 3 & 4 : Business Quantitative & Measuring Probability

MODUL III

  • Session 5 & 6 & 7 : Financial Risk Management

MODUL IV

  • Session 8 : Risk Management Technique I ( Operational )
  • Session 9 : Risk Management Technique II ( Financial )

MODUL V

  • Session 10 & 11 : Legal Risk Management

MODUL VI

  • Session 12 : Operasional Risk Management

MODUL VII

  • Session 13 : Project Risk Management

MODUL VIII

  • Session 14 : BCM / BCP

MODUL IX

  • Session 15 : Integrated Case Study / Exam Simulation

Ujian Sertifikasi* ( 1 hari )

*ujian dilaksanakan setelah selesai tutorial

Test Proficiency :

  • Modul Enterprise Risk Management 30 min ( 30 Q , Multiple Choice )
  • Modul Business Quantitative 30 min ( 30 Q , Multiple Choice )
  • Modul Finance Risk Management 30 min ( 30 Q , Multiple Choice )
  • Modul Risk Management  Technique 30 min ( 30 Q , Multiple Choice )
  • Modul Legal Risk Management  30 min ( 30 Q , Multiple Choice )
  • Modul Operational  Risk Management  30 min ( 30 Q , Multiple Choice )
  • Modul Project  Risk Management  30 min ( 30 Q , Multiple Choice )

Competency Assessment :

60 min ( Presentation & Interview ) jadwal dilaksanakan sesuai dengan perjanjian 

G. MATERI UJI TERTULIS CRMP :

  1. Business Quantitative/ Measuring Probability (All Multiple Choices) : 30 Minutes
  2. Manging Financial Risk   ( All multiple Choices ) : 30 Minutes
  3. Risk Management Technique ( All Multiple Choices ) : 30 Minutes
  4. Enterprise Risk Management ( All Multiple Choices ) : 30 Minutes
  5. Legal & Business Risk Management (All Multiple Choice30 Minutes
  6. Operational Risk Management (All Multiple Choice ) : 30 Minutes
  7. Project Risk Management (All Multiple Choices) : 30 Minutes

H. MATERI UJI PRESENTASI/WAWANCARA MELIPUTI :

  • Competency Base Assesment (Presentation and Interview)  : 60 Minutes / Participant

Area Kompetensi yang Diujikan pada Competency Based Assesment /presentasi penerapan manajemen risiko pada organisasi masing-masing / InterviewMeliputi :

  •  Enterprise Risk Management (ERM)
  • Risk Management Process and Technique

I. GELAR SERTIFIKASI

Lulusan program sertifikasi ini mendapat gelar profesi Ahli Manajemen Risiko organisasi terintegrasi, dan CRMP (Certified Risk Management Professional) dari International Accreditation Organization (IAO). Bagi pemegang Gelar CRMP, selain memperoleh pengakuan profesi dibidang manajemen risiko korporasi, mereka juga dapat memperoleh kredit akademis bagi yang ingin mengambil gelar studi lanjutan pasca sarjana / Magister Manajemen dengan spesialisasi Manajemen Risiko pada Perguruan tinggi yang memiliki kerjasama dengan LSPMR.  Disamping itu pengakuan juga diberikan oleh Dewan Serfikasi Qualified Internal Auditor bagi para pemegang gelar CRMP, yang dapat langsung mengikuti tingkat 5 dari keseluruhan 5 tingkat pendidikan sertifikasi Internal Auditor untuk mendapatkan gelar QIA. Dalam jangka panjang LSPMR membuka kemungkinan penyetaraan Sertifikasi sejenis dengan Negara lain.

J. INFO LEBIH LANJUT

LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI MANAJEMEN RISIKO (LSPMR).

Gedung Biru Lt. 4
Jl. Kapten Tendean No. 1 – Jakarta Selatan 12710
Phone     : 021-2525 242
Fax        : 021-52963040 – 52963041
Website  : http://www.lspmr.org
Email     : info@lspmr.org

WHAT IS CERTIFIED RISK MANAGEMENT PROFESSIONAL-CRMP

http://www.lspmr.org/html/download.php?id=lihmateri&kode=5

http://www.lspmr.org/html/download.php?id=lihmateri&kode=7

(Sumber : http://www.lspmr.org/html/index.php?id=profil&kode=78&profil=CRMP )

 

Sekilas Info tentang ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA) dan Cara Pendaftaran ASEAN CPA bagi Anggota IAI

Sekilas Info tentang ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA) dan Cara Pendaftaran ASEAN CPA bagi Anggota IAI

I. SEKILAS   TENTANG  ASEAN CPA

A. Pendahuluan

Profesi Akuntan harus bersiap Menghadapi ASEAN Economic Community

ASEAN Economic Community (AEC) merupakan sebuah komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Latar belakang terbentuknya AEC ini adalah menjaga stabilitas politik dan keamanan negara-negara ASEAN, meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di pasar dunia, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan pembangunan ekonomi yang merata, mengurangi kemiskanan, dan kesenjangan sosial ekonomi, serta meningkatkan  standar hidup penduduk negara anggota ASEAN. Negara-negara yang tergabung dalam AEC memberlakukan system single market dalam melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja. Salah satu dampak dari berlakunya AEC ini adalah terjadinya perdagangan jasa dan tenaga kerja antar negara-negara yang tergabung di ASEAN, termasuk dalam profesi akuntan.
Dalam menghadapi AEC ini, Pusat Pembinaan Profesi Keuangan telah melakukan strategis sebagai berikut:
1. menyiapkan blue print pengembangan profesi akuntansi di Indonesia,
2. memperkuat regulasi profesi akuntansi,
3. meningkatkan kualitas profesionalisme akuntan Indonesia melalui pendidikan profesional berkelanjutan, dan
4. meningkatkan kerjasama dengan asosiasi profesi, regulator terkait dengan profesi akuntansi.
Dengan strategis yang dilakukan untuk menghadapi AEC ini, diharapkan profesi akuntan Indonesia siap bersaing dengan akuntan dari negara ASEAN lainnya.

Sebagaimana diketahui, mulai tahun 2015, Indonesia memasuki era baru yang dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Hal tersebut  membuka peluang  terbukanya kesempatan bagi akuntan profesional warga negara ASEAN untuk dapat memberikan jasanya melintasi negara-negara ASEAN. Sebagaimana telah disepakati dalam Mutual Recognition Agreement (MRA) yang ditandatangani negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2014 silam, jasa akuntansi yang dapat diberikan adalah sepanjang akuntan tersebut tidak menandatangani laporan auditor independen maupun laporan pemberian jasa akuntansi lainnya yang memerlukan izin. Namun demikian, sampai dengan saat ini para pihak masih terus mengkaji kemungkinan pemberian jasa-jasa akuntansi yang lain.

 Seorang akuntan profesional terlebih dahulu harus bersertifikat ASEAN Chartered Professional Accountant (ACPA atau ASEAN CPA) untuk dapat memberikan jasanya di lintas negara ASEAN. Secara garis besar, persyaratan minimum untuk memperoleh sertifikasi ACPA tersebut meliputi kualifikasi pendidikan, persyaratan sertifikasi, persyaratan pengalaman, persyaratan pendidikan profesional berkelanjutan (PPL), dan persyaratan etika yang telah ditetapkan dalam MRA.

Untuk melaksanakan ketentuan MRA tersebut, pada level ASEAN telah dibentuk ASEAN CPA Coordinating Committee (ACPACC). ACPACC merupakan komite yang memiliki otoritas untuk memberikan dan menarik kembali gelar ACPA. Selanjutnya pada level nasional, setiap negara ASEAN membentuk sebuah monitoring committee yang bertugas menetapkan kebijakan, melakukan perancangan, dan mengimplementasikan pelaksanaan MRA pada negara masing-masing. Tugas tersebut antara lain penetapan persyaratan (assessment statement) dan penerimaan permohonan ACPA pada negara yang bersangkutan.

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Keputusan Menteri Keuangan telah membentuk monitoring committee yang disebut sebagai Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI). Direncanakan pada akhir Oktober 2017 AMCI akan menetapkan assessment stament Indonesia. Dengan demikian, diharapkan efektif per November 2017, akuntan profesional di Indonesia sudah dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh sertifikasi ACPA dan memberikan jasanya di negara anggota ASEAN lain.

( Sumber : http://www.pppk.kemenkeu.go.id/News/Details/100  )

B. Tentang AMCI

Back to Homepage

Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 25/PMK.01/2014 tentang Akuntan Beregister Negara terdapat perkembangan yang berpengaruh bagi profesi Akuntansi di Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia telah memasuki era perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN Economic Community pada Desember 2015. Selanjutnya dalam persaingan pasar tunggal ASEAN tersebut, jasa Akuntansi telah disepakati untuk diperdagangkan lintas negara anggota sejak ditandatanganinya MRA on Accountancy pada 24 Agustus 2014. Dimana salah satu hal yang diatur dalam MRA on Accountancy tersebut adalah akuntan publik asing dapat mengajukan izin menjadi akuntan publik atau warga negara asing dapat terdaftar dalam Register Negara Akuntan apabila  telah ada perjanjian saling pengakuan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara asal akuntan publik asing atau warga negara asing tersebut begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan ketentuan article 6 ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Accountancy Services, masing-masing negara anggota ASEAN harus membentuk Accountancy Monitoring Committee. Selanjutnya pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Keuangan telah membentuk Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI) yang mempunyai tugas menetapkan kebijakan, melakukan perancangan dan implementasi Pelaksanaan ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Accountancy Services.

Komite Pemantau Akuntansi Indonesia / Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI) adalah komite yang bertanggung jawab menyelenggarakan hal-hal terkait pelaksanaan Mutual Recognition Arrangament Jasa Akuntansi se-ASEAN (MRA Akuntansi ASEAN), khususnya di negara Indonesia. MRA Akuntansi ASEAN adalah perjanjian saling pengakuan kualifikasi akuntan profesional se-ASEAN. MRA ditandatangani pada 23-25 Agustus 2014 di Myanmar.

Tugas-tugas utama AMCI antara lain memproses permohonan aplikasi untuk menjadi ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA), memelihara register ASEAN CPA serta hal-hal lain yang terkait.

C. Sejarah ASEAN CPA.

Perjalanan MRA Akuntansi ASEAN dimulai sejak ditandatanganinya ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada Desember 1995 sebagai tonggak  perjanjian perdagangan jasa antarnegara ASEAN. Pada Januari 1996, Coordinating Committee on Services (CCS) dibentuk sebagai salah satu wadah negosiasi perdagangan jasa lintas negara ASEAN.

Dalam CCS dibahas negosiasi perdagangan tidak kurang dari 128 sektor jasa, termasuk akuntansi. Dimulai sejak 1996, hasil nyata pembicaraan terkait MRA akuntansi terlihat pada tahun 2009 dengan ditandatanganinya MRA Framework on Accountancy Services di Chan Am Thailand. Dokumen ini pada intinya hanya mengatur prinsip-prinsip perjanjian saling pengakuan jasa akuntansi di ASEAN dan mendorong dilakukannya MRA bilateral di antara negara-negara ASEAN.

Sejak tahun 2011 negara-negara ASEAN kembali membicarakan MRA dengan tujuan merumuskan perjanjian pengakuan yang lebih operasional. Pada 23-25 Agustus 2014 MRA Akuntansi ASEAN ditandatangani di Yangoon, Myanmar oleh 9 (sembilan) negara ASEAN sedangkan Filipina menandatangani MRA pada November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Pada intinya, MRA Akuntansi ASEAN mengatur dua hal penting:

  1. Lingkup perdagangan jasa akuntansi lintas batas negara ASEAN

MRA (Pasal 3) menyatakan bahwa jasa-jasa akuntansi dapat diberikan oleh seorang “Akuntan Profesional” warga negara ASEAN di seluruh negara ASEAN, sepanjang akuntan dimaksud tidak menandatangani laporan auditor independen maupun laporan pemberian jasa akuntansi lainnya yang memerlukan izin

  1. Mekanisme saling pengakuan kualifikasi akuntan profesional antarnegara ASEAN

MRA mengatur bahwa “Akuntan Profesional” yang diakui MRA memberikan jasa akuntansi lintas negara ASEAN adalah seorang akuntan yang telah memperoleh sebutan ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA)

MRA menetapkan persyaratan-persyaratan dan prosedur minimum bagi seorang warga negara ASEAN untuk menjadi ASEAN CPA. Secara garis besar, persyaratan menjadi ASEAN CPA meliputi persyaratan kualifikasi pendidikan, keanggotaan profesi, pengalaman, pendidikan berkelanjutan, dan etika.

D. Menjadi ASEAN CPA

Beradasarkan MRA Akuntansi ASEAN, akuntan Indonesia yang memenuhi persyaratan dapat mengajukan permohonan menjadi ASEAN CPA. Permohonan diajukan kepada AMCI dengan mengisi formulir permohonan serta melengkapi dokumen yang menunjukkan terpenuhinya persyaratan untuk menjadi ASEAN CPA.

Dalam rangka penilaian pemenuhan persyaratan, AMCI dapat meminta dokumen tambahan apabila dirasa perlu dan dengan menyebutkan alasannya. Permintaan tambahan dokumen dilakukan secara tertulis oleh Kepala Sekretariat AMCI dan ditembuskan kepada Ketua AMCI.

E. Registrasi

Pendaftaran silahkan click tautan / link berikut :

http://amci.or.id/?id=Registrasi

Dowload  formulir ASEAN CPA pada link berikut :

Conntact lebih lanjut

Komite Pemantau Akuntansi Indonesia

Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI) 
Gedung Djuanda 2 Lantai 19, Jl. Dr Wahidin No.1, Jakarta Pusat, Indonesia
Phone : +6221 – 3452670
Fax     : – 

E-Mail  : info@amci.or.id 

(Sumber : http://www.amci.or.id/)

II. PENDAFTARAN ASEAN CPA BAGI ANGGOTA IAI

A. Pendahuluan

Pendaftaran ASEAN Chartered Professional Accountant (ACPA) bagi Anggota IAI kini telah dibuka. ACPA merupakan tindaklanjut dari ditandatanganinya Mutual Recognition Arrangement on Accountancy Services (MRAA) oleh kesepuluh negara anggota ASEAN pada tahun 2014. Di bawah MRAA, Akuntan Profesional dari seluruh negara ASEAN yangmemiliki kualifikasi dan pengalaman sesuai ketentuan MRAA, dapat mengajukan permohonan untuk menjadi ACPA.

ACPA secara hukum diizinkan untuk memberikan layanan akuntansi di seluruh negara ASEAN (kecuali untuk penandatanganan laporan auditor independen dan penyediaan layanan akuntansi yang memerlukan lisensi domestik) tanpa harus menjalani prosedur pelatihan atau kualifikasi ulang. Sertifikat ACPA akan membuka akses bagi Anggota IAI memasuki pasar di seluruh ASEAN danmenghadirkan peluang baru ke salah satu wilayah ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di dunia.

Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN telah membuka pendaftaran ACPA untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Oktober s/d 25 Oktober 2017. Untuk selanjutnya, batas waktu pengajuan ACPA ke IAI adalah tanggal 15 (lima belas) pada setiap bulannya. Pengajuan yang lewat dari tanggal 15 (lima belas) akan diproses setelah tanggal 15 (lima belas) pada bulan berikutnya.

B. Yang bisa mendaftar sebagai ACPA:

  • Menjadi salah satu warga negara yang termasuk dalam ASEAN.
  • Memiliki sertifikasi profesi akuntansi. Untuk Indonesia: CA, CPA, CPMA.
  • Memiliki  pengalaman bekerja di profesi akuntansi minimal 3 (tiga) tahun dalam 5 (lima) tahun terakhir.
  • Memenuhi persyaratan SKP sesuai ketentuan organisasi profesi. Sebagai anggota IAI, SKP yang harus dipenuhi adalah minimal 30 SKP dalam 1 (satu) tahun dan 120 SKP dalam kurun 3 tahun.

C. Cara mendaftar:

  • Mengisi formulir pendaftaran ACPA dengan menggunakan bahasa Inggris dan dilengkapi dengan dokumen pendukung (Ijazah, sertifikat CA, dan surat keterangan bekerja).
  • Mengirimkan berkas pendaftaran ke kantor pusat IAI: Grha Akuntan, Jl. Sindanglaya no. 1 Menteng Jakarta Pusat.
  • IAI akan melakukan verifikasi dan approval pengajuan ACPA dan selanjutnya diserahkan kepada AMCI (Accountancy Monitoring Comittee Indonesia) untuk dilakukan verifikasi dan approval lanjutan. Proses berikutnya AMCI akan menyerahkan pengajuan ACPA kepada ACPACC (ASEAN Chartered Professional Accountants Coordinating Comittee). Proses di ACPACC memakan waktu 3 (tiga) bulan sampai dengan diterbitkannya sertifikat ACPA.

Berikut disampaikan formulir dan panduan pendaftaran ACPA.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Grha Akuntan, Jl. Sindanglaya no. 1 Menteng Jakarta Pusat. Telp 021-31904232 atau iai-acpa@iaiglobal.or.id.

File Lampiran:

http://iaiglobal.or.id/v03/files/file_berita/1.%20Panduan%20Isian%20Formulir%20ASEAN%20CPA-1.PDF

http://iaiglobal.or.id/v03/files/file_berita/Formulir%20ASEAN%20CPA-2.docx 

( sumber : http://iaiglobal.or.id/v03/berita-kegiatan/detailberita-1030=pendaftaran-asean-cpa-bagi-anggota-iai )

 

 

Sekilas Info tentang Chartered Accountant (CA), Jadwal Ujian CA tahun 2018, Kode Etik Profesi CA, Ketentuan Umum PPL dan yang harus dipenuhi CA Indonesia

Sekilas Info tentang Chartered Accountant (CA), Jadwal Ujian CA th 2018, Kode Etik Profesi CA, Ketentuan Umum PPL dan yang harus dipenuhi CA Indonesia

 

I. Informasi tentang Chartered Accountant (CA)

A. CA Kualifikasi Internasional

 

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah menetapkan sebutan Chartered Accountant Indonesia (CA) sebagai kualifikasi akuntan profesional sesuai panduan standar internasional. Penetapan sebutan CA dilaksanakan dalam rangka melaksanakan tujuan pendirian pendidikan akuntan; dan mempertinggi mutu pekerjaan akuntan. Kualifikasi ini juga ditetapkan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada profesi akuntan; memberikan perlindungan terhadap pengguna jasa akuntan, serta mempersiapkan akuntan Indonesia menghadapi tantangan profesi dalam perekonomian global sebagai anggota International Federation of Accountant (IFAC), IAI telah meluncurkan CA untuk menaati Statement Membership Obligations (SMO) & Guidlenes IFAC. IFAC telah menetapkan International Education Standards (IES) yang memuat kerangka dasar dan persyaratan minimal untuk memperoleh kualifikasi sebagai seorang akuntan profesional. IAI berkewajiban untuk mematuhi IES tersebut sebagai panduan utama pengembangan akuntan profesional Indonesia. Adanya kualifikasi akuntan profesional dengan sebutan CA, diharapkan dapat menjamin dan meningkatkan mutu pekerjaan akuntan yang profesional dan memiliki daya saing di tingkat global sehingga siap menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN.

B. CA Tentukan Kesuksesanmu

CA dibangun dengan mengutamakan integritas dan profesionalisme yang akan menjadi bekal berharga bagi akuntan Indonesia dalam menghadapi persaingan global. CA dengan segenap kompetensi yang melekat di dalamnya, merupakan bentuk pengakuan khusus bagi pemegangnya dalam melaksanakan tanggung jawab untuk mengambil keputusan signifikan di bidang-bidang yang terkait dengan pelaporan keuangan. Lebih jauh, CA kini menjadi identitas personal yang bisa diinisiasikan sebagai sebuah pencapaian penting Akuntan Profesional. CA menjadimilestone  yang akan membuka peluang tak terbatas seorang Akuntan Profesional untuk berkarya lebih lanjut.

Eksistensi CA Indonesia sangat penting dan strategis untuk membangunculture bisnis yang kuat, visioner, memegang teguh nilai-nilai, dan fokus terhadap nilai tambah positif bagi institusinya. Sebagai wadah berhimpunnya akuntan seluruh Indonesia, IAI berkiprah secara optimal untuk mewujudkan akuntan profesional terpercaya, berkualitas tinggi, serta bisa dihandalkan di dunia kerja dan semakin kompetitif dalam dunianya. Untuk itulah IAI memiliki dan komitmen untuk membantu setiap individu yang ingin menciptakan kisah suksesnya sebagai akuntan profesional. IAI akan mewujudkan kisah sukses setiap individu yang siap berinteraksi dengan IAI untuk memenangkan persaingan di era globalisasi yangdistrupted dan penuh peluang baru.

C. Tujuan

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyelenggarakan ujian CA berdasarkan ketentuan IFAC peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta ketentuan lain yang berlaku. IAI menyelenggarakan ujian CA dengan tujuan untuk mendapatkan Akuntan sebagai Anggota Utama IAI yang memiliki :

  1. Kualifikasi untuk menjalankan peran sebagai Akuntan Profesional yang sesuai kompetensi utama dan kompetensi khusus CA.
  2. Komitmen tinggi terhadap etika, nilai-nilai dan perilaku profesional yang tinggi; dan
  3. Keahlian profesional untuk menjalankan peran tersebut.

Ujian CA diselenggarakan berdasarkan atas prinsip-prinsip dasar, yaitu: kompetensi, objektivitas, independen, integritas, transparan, fairness,adil, dan bertanggung jawab. Setiap peserta dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ujian CA harus melaksanakan ujian dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip tersebut, etika profesi, dan ketentuan peraturan yang berlaku yang ditetapkan IAI.

D. Sebutan Profesi

Sertifikat CA diberikan kepada seseorang yang dinilai telah memenuhi kualifikasi untuk menjalankan peran sebagai Akuntan Profesional sesuai kompetensi utama dan kompetensi khusus CA.

Untuk memperoleh sebutan CA, seseorang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Lulus ujian sertifikasi CA Indonesia yang dilaksanakan oleh IAI; dan
  2. Memiliki pengalaman dan/atau menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi, baik di sektor pendidikan, korporasi, sektor publik, maupun praktisi akuntan publik yang data di verifikasi paling sedikit 3 (tiga) tahun di bidang akuntansi yang di peroleh dalam 7 (tujuh) tahun terakhir; dan
  3. Sebagai Anggota IAI.

E. Kewajiban Pemegang sertifikat CA

  1. Kewajiban pemegang sertifikat CA adalah sebagai berikut :
  2. Tetap terdaftar sebagai Anggota Utama IAI;
  3. Membayar iuran keanggotaa IAI;
  4. Menjaga nama baik profesi Akuntan dan organisasi IAI;
  5. Menaati dan melaksanakan standar profesi dan kode etik yang ditetapkan IAI;
  6. Menjaga kompetensi melalui Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) sesuai ketentuan IAI;dan
  7. Mematuhi Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Peraturan Organisasi serta ketentuan IAI lainnya.
  8. Untuk tetap dapat mempergunakan sebutan profesi, pemegang sertifikat CA harus mengikuti dan menaati seluruh ketentuan dan kewajiban yang ditentukan oleh IAI.

F. Fungsi dan Posisi CA

CA dapat menduduki fungsi dan posisi dalam lingkup :

  1. MANAJERIAL, dengan posisi sebagai Chiel Excecutive Officer (CEO), Chief Financial Officer (CFO), Chief Operating Officer (COO), Direktur BUMN, Direktur Operasional.
  2. OPERASIONAL, dengan posisi sebagai Business Unit Controller, FInancial and Performance Analyst, Cost Accounting Manager, HR Manager, Business Support Manager an Treasurysebagai penanda tangan laporan keuangan perusahaan.
  3. MANAGEMENT CONTROL, dengan posisi sebagai Business Assurance Manager, Risk Manager, Compliance Manager, Internal Auditor.
  4. ACCOUNTING & STAKEHOLDER COMMUNICATIONS sebagai Group Controller, Head of Reporting, Investor Relation Manager, FInance & Accounting Manager.
  5. SEKTOR PUBLIK, seorang CA memiliki kemampuan untuk menduduki posisi sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap laporan keuangan entitas sektor publik.
  6. AKADEMIK, seorang CA memiliki kemampuan untuk menduduki posisi sebagai dosen, pimpinan fakultas/universitas.
  7. AUDITOR*, seorang CA memiliki kemampuan untuk menduduki posisi sebagai auditor dalam suatu entitas atau institusi.

*) Mengikuti ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan fungsi di posisi puncak inilah seorang CA dapat dikatakan berperan sebagai creditors, enablers, preservers dan reporters untuk menciptakan suitainable value dalam bisnis.

CA dapat mendirikan dan/atau menjadi partner Kantor Jasa Akuntan (KJA) yang bisa memberikan jasa akuntansi seperti jasa pembukuan, jasa kompilasi laporan keuangan, jasa manajemen, akuntansi manajemen, konsultasi manajemen, jasa perpajakan, jasa prosedur yang disepakati atas informasi keuangan, dan jasa sistem teknologi informasi.

(   Sumber : http://iaiglobal.or.id/v03/CA/fungsi-dan-posisi-ca  )

G. Ujian CA

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyelenggarakan ujian CA berdasarkan ketentuan IFAC peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta ketentuan lain yang berlaku.

IAI menyelenggarakan ujian CA dengan tujuan untuk mendapatkan Akuntan sebagai Anggota Utama IAI yang memiliki :

  1. Kualifikasi untuk menjalankan peran sebagai Akuntan Profesional yang sesuai kompetensi utama dan kompetensi khusus CA.
  2. Komitmen tinggi terhadap etika, nilai-nilai dan perilaku profesional yang tinggi.
  3. Keahlian profesional untuk menjalankan peran tersebut.

Ujian CA diselenggarakan berdasarkan atas prinsip-prinsip dasar, yaitu: kompetensi, objektivitas, independen, integritas, transparan, fairness,adil, dan bertanggung jawab. Setiap peserta dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ujian CA harus melaksanakan ujian dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip tersebut, etika profesi, dan ketentuan peraturan yang berlaku yang ditetapkan IA.

Formulir Pendafaran Ujian CA IAI dapat diunduh (download) berikut ini. Formulir Pendaftaran Ujian CA IAI

Adapun Kompetensi dan Silabus CA dapat silahkan  download berikut ini Kompetensi & Silabus Chartered Accountants-CA

Berikut Informasi lengkap tentang CA. informasi-lengkap-tentang-chartered-accountant-ca

sumber : http://iaiglobal.or.id/v03/CA/kompetensi-ca

Jadwal Ujian Chartered Accountant (CA) tahun 2018.

Pelaksanaan Ujian CA:

NO KEGIATAN TANGGAL PELAKSANAAN

1

Ujian Chartered Accountant – Periode I Tahun 2018

16-19 Januari 2018

2

Ujian Chartered Accountant – Periode II Tahun 2018

17 – 20 April 2018

3

Ujian Chartered Accountant – Periode III Tahun 2018

17 – 20 Juli 2018

4

Ujian Chartered Accountant – Periode IV Tahun 2018

16 – 19 Oktober 2018

sumber : http://www.iaiglobal.or.id/v03/CA/jadwal-ujian-ca

II. Kode Etik Profesi CA

Akuntan Indonesia yang menyandang Sebutan Chartered Accountants (CA) memegang teguh prinsip-prinsip dasar keprofesian yang merupakan kode etik-nya, yaitu :

  1. Tanggung Jawab Profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai profesional, setiap pemegang CA harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

  1. Kepentingan Publik

Setiap pemegang CA berkewajiban untuk senantiasa dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

  1. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap pemegang CA harus memenuhi tanggung jawab profesionalismenya dengan integritas setinggi mungkin.

  1. Obyektivitas

Setiap pemegang CA harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi, dan teknik yang paling mutakhir.

  1. Kerahasiaan

Setiap pemegang CA harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dengan berhati-hati, pemegang CA mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

III. Ketentuan Umum PPL

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IAI telah mengatur dan menetapkan bahwa seluruh Anggota IAI berkewajiban mengikuti PPL.

Peraturan menteri Keuangan (PMK) Nomor 25/PMK.01/2014 tentang Akuntan Beregister Negara mewajibkan seluruh Akuntan untuk menjaga kompetensi melalui PPL dan menyampaikan realisasi PPL kepada Ikatan Akuntan Indonesia.

Pasal 16 PMK 25/PMK.01/2014 antara lain menyebutkan PPL dapat ditempuh melalui PPL yang diselenggarakan oleh IAI, PPAJP dan/atau pihak lain yang diakui oleh IAI dan/atau PPAJP.

Akuntan wajib mengikuti PPL paling sedikit berjumlah 30 (tiga puluh) Satuan Kredit PPL (SKP) setiap tahun. Sebagai anggota International Federation of Accountant (IFAC) IAI mewajibkan 120 SKP bagi setiap Akuntan selama 3 (tiga) tahun.

( Sumber : http://iaiglobal.or.id/v03/CA/kewajiban-ca )

IV. Yang harus dipenuhi sebagai CA Indonesia

a. Apasaja Kriteria yang Harus Dipenuhi untuk Memperoleh Gelar CA  Indonesia?

CA diberikan kepada Anggota Utama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yaitu Akuntan Profesionalyang memenuhi seluruh kriteria berikut:

1. memiliki register akuntan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
2. memiliki pengalaman dan/atau menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi, baik di sektor pendidikan, korporasi, sektorpublik, maupun praktis iakuntan publik; dan
3. Menaati dan melaksanakan StandarProfesi; dan
4. Menjaga kompetensi melalui pendidikan profesional berkelanjutan.
b. Mengapa IAI Meluncurkan Gelar CA Indonesia?
1. Mentaati Statement Membership Obligations& Guidelines International Federation of Accountants (FAC);
2. Memberinilai tambah Akuntan Beregister Negara;
3. Persiapan dalam menghadapi ASEAN Economic Community 2015;
4. Persiapan menyongsong RUU tentang Pelaporan Keuangan.
c. Apa Benefit Memperoleh Gelar CA Indonesia?
1. Pengakuan sebagai Akuntan Profesional sesuai dengan panduan internasional (IFAC);
2. Dijaga kompetensinya sesuai dengan ketentuan IAI yang mengacu ke standar internasional;
3. Pengakuan sebagai Akuntan Profesional yang diberikan tanggung jawab untuk mengambil keputusan yang signifikan dalam bidang-bidang yang terkait dengan pelaporan keuangan untuk kepentingan public;
4. Dapat diakui oleh Professional Accountancy Organization negara lain (tidak perlu menempuh beberapa mataujian).
d. Apakah CA dapat dicantumkan di belakang nama seperti gelar lainnya?
Ya, sebutan CA dapat dicantumkan di belakang nama, setelah penulisan gelar Ak.Misalnya menjadi: Bunga, SE.,Ak., CA.
e. Bagaimana Cara Mendapatkan Gelar CA Indonesia?
Permohonan untuk menjadi Anggota Utama/Penerima Sertifikat CA IAI harus diajukan secara tertulis dengan melengkapi persyaratan sebagai berikut:
a. mengisi formulir keanggotaan yang memuat data-data anggota, pernyataan kesediaan memenuhi kewajiban  sesuai ketentuan dalam AD/ART dan peraturan organsiasi IAI serta kesediaan untuk diproses dan menerima sanksi penegakan disiplin keanggotaan sesuai mekanisme yang berlaku dalam hal tidak memenuhi kewajibannya sebagai anggota IAI; dan
b. melengkapi dokumen administrasi pendukung sebagai berikut:
1. pas Foto 3×4 sebanyak 1 (satu) lembar;
2. kopi Register Negara untuk Akuntan;
3. Ijazah, dan
4. surat keterangan pengalaman menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi baik di sektor pendidikan, korporasi, sektor publik, maupun praktisi akuntan publik;
5. Bukti pembayaran uang pangkal dan iuran tahunanAnggotaUtama.
f. Dimana Tempat Pendaftaran CA Indonesia?
Permohonan untuk menjadi Anggota Utama/Penerima Sertifikat CA IAIdapat dilakukan secara langsung dikantor IAI Pusat, 30 IAI Wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia, maupunKnowledge Center IAI; atau secara tidak langsung dengan menyampaikan formulir pendaftaran melalui fax, email, atau online dari internet.
g. Apasaja  yang dapat diakui sebagai Pengalaman Praktik Keprofesian di Bidang Akuntansi?
Pengalaman menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi calon Anggota Utama/Penerima Sertifikat CA IAI dapat diperoleh dari:
a. pengalaman bekerja di bagian akuntansi pada suatu entitas;
b. pengalaman sebagai pengajar atau dosen di bidang akuntansi;
c. pengalaman sebagai auditor atau pemeriksa di bidang keuangan pada Badan Pemeriksa Keuangan, Kementerian/Lembaga Non Kementerian, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, atau Kantor Akuntan Publik; atau
d. pengalaman di bidang akuntansi lainnya.
h. Berapa lama prasyarat jangka waktu pengalaman praktik yang diwajibkan?
Jangka waktu pengalaman menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi calon Anggota Utama/Penerima Sertifikat CA IAIadalah minimal selama 3 (tiga) tahun.
Pendidikan Profesi Akuntansi diakui sebagai pengalaman menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi selama 1 (satu) tahun.
i. Apakah pengalaman praktik harus dibuktikan dengan surat keterangan bekerja?
Ya.Penilaian pengalaman dibuktikan dengansurat keterangan pengalaman menjalankan praktik keprofesian di bidang akuntansi baik di sektor pendidikan, korporasi, sektor publik, maupun praktisi akuntan publik ditandatangani olehpejaba tberwenang.
Dapat juga menggunakan SK pengangkatan sebagai karyawan, atau bagi Akuntan publik denganizin Akuntan Publikdari Kemenkeu.
j. Apa saja Kewajiban Pemegang Sebutan CA?
Mempertahankan keanggotaannya di IAI dan memenuhi semua kewajibannya sebagai Anggota Utama IAI.
Meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti kegiatan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) secara terus menerus sekurang-kurangnya 120 Satuan Kredit PPL (SKP) dalam periode 3 (tiga) tahun dan harus memenuhi sekurang-kurangnya 30 SKP dalam 1 (satu) tahun.
Menaati dan melaksanakan kode etik dan standa rprofesi.
k. Apakah Gelar CA dapat dicabut?
Ya. DPN IAI berwenang mencabut gelar CA apabila Anggota Utama tidak memenuhi kewajibannya sesuai mekanisme penegakan disiplin anggota yang berlaku.
l. Apa saja bentuk Kegiatan PPL yang dapat diakui IAI?
IAI mengakui dua jenis kegiatan PPL yaitu:
1. Kegiatan terstruktur tatap muka, yaitu: pelatihan; kursus; lokakarya; diskusi panel; seminar; konferensi; konvensi; simposium; atau program pasca sarjana pada bidang studi yang relevan.
2. Terstruktur Non-tatap Muka, yaitu: program belajar jarak jauh; penulisan artikel, makalah, atau buku dengan materi yang relevan dan dipublikasikan;riset profesional atau studi terhadap bidang-bidang yang relevan;menjadi anggota Dewan Penguji pada organisasi profesi yang mengharuskan yang bersangkutan menyiapkan atau mereview materi-materi yang bersifat teknis; atau menjadi anggota dalam komite-komite teknis yang dibentuk dan/atau diakui oleh IAI.
m. Bagaimana Mekanisme Pengakuan Kegiatan PPL?
Pemegang Gelar CA melaporkan kegiatan PPL yang diikutinya setiap tahun dengan melampirkan copy sertifikat dan atau agenda kegiatan yang diikutinya setiap tahun
n. Apakah IAI mengakui kegiatan PPL yang dilaksanakan selain oleh IAI?
Ya.Penyelenggara kegiatan PPL Non-IAI yang dapat diakui adalah:
1. organisasi profesi akuntansi yang merupakan anggota International Federation of Accountants;
2. Asosiasi Profesi Mitra IAI;
3. institusi yang diakui pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku; dan
4. institusi lainnya yang memiliki kredibilitas tinggi sesuai ketetapan DPN.
o. Apakah pemegang CA harus membayar untuk mengikuti kegiatan PPL IAI?
IAI menyelenggarakan pelatihan yang berbayar dan gratis. Pemegang CA seperti anggota IAI lainnya berhak mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh IAI secara gratis bagi anggota. Jika pemegang CA ingin mengikuti pelatihan yang berbayar, maka mereka berhak atas harga khusus atau diskon yang diberlakukan untuk anggota I

Sumber : http://iaisertifikasi.blogspot.co.id/2013/04/yang-harus-dipenuhi-sebagai-ca-indonesia.html

%d bloggers like this: