GCG melalui Corporate Culture


GCG MELALUI CORPORATE CULTURE

(Artikel ini telah dimuat di Harian BATAMPOS,

Edisi Selasa, 16 Januari 2007, Rubrik “Opini”)

 

Oleh: Muh Arief Effendi *)

 Akhir-akhir ini masalah budaya perusahaan (corporate culture) banyak mendapatkan sorotan. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya penurunan kinerja yang terjadi di berbagai perusahaan. Budaya perusahaan adalah kumpulan nilai-nilai (values)  dan unsur-unsur yang menentukan  identitas dan perilaku suatu organisasi perusahaan.  Budaya perusahaan merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam visi dan misi perusahaan. Budaya perusahaan bukan hanya sekedar “buku pintar” yang tersimpan dalam laci atau rak-rak buku saja, namun perlu diaplikasikan dalam operasi perusahaan sehari-hari (day to day operation). Sukses tidaknya suatu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya memang tidak terlepas dari budaya perusahaan yang dimilikinya.  Oleh karena itu, budaya perusahaan perlu diaktualisasikan  melalui penyusunan pedoman kebijakan (policy guidelines), sehingga diharapkan dapat memaksimalkan kontribusi seluruh anggota perusahaan didalam mewujudkan visi dan misi perusahaan.
Keberhasilan implementasi Good Corporate Governance (GCG) dalam pengelolaan perusahaan pada era globalisasi sangat tergantung adanya nilai-nilai budaya perusahaan yang dianut dan dipraktekkan dilingkungan perusahaan. Saat ini budaya perusahaan telah menjadi tema sentral dalam pengembangan perusahaan, terutama menyangkut Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu budaya perusahaan merupakan prinsip dasar (basic principle) dalam pengembangan perusahaan untuk meningkatkan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan daya saing perusahaan.

Djoko Santoso Moeljono (2005) dalam bukunya “Good Corporate Culture sebagai inti dari GCG” menyatakan bahwa sebelum perusahaan menerapkan GCG sebaiknya perusahaan menerapkan terlebih dahulu nilai-nilai yang terkandung dalam Corporate Culture yang dianutnya. Selain itu, mantan CEO Bank BRI tersebut, juga menyatakan bahwa GCG dapat berjalan apabila individu-individu dalam perusahaan secara internal mempunyai sistem nilai  (value system) yang mendorong mereka untuk menerima, mendukung dan melaksanakan GCG. Hal tersebut terbukti dengan keberhasilan beberapa perusahaan kelas dunia (world class company) maupun perusahaan multi nasional dalam menerapkan GCG setelah terlebih dahulu menjalankan dengan konsisten budaya perusahaan.

 
Perusahaan yang dapat berkembang pesat dalam jangka panjang (sustainable company), ternyata  semuanya memiliki budaya perusahaan yang kuat. Andrew E.B. Tani, konsultan SDM ternama, dalam majalah Warta Ekonomi  edisi 11 (9 Juni 2006), menyatakan bahwa  budaya perusahaan adalah sumber kekuatan perusahaan. Perusahaan yang memiliki budaya perusahaan yang kuat akan mampu bertahan  melewati sejumlah tantangan yang muncul dalam berbagai masa, misalnya Procter & Gambler (P&G), IBM, Nokia dan General Electric (GE). Berikut ini beberapa falsafah yang dimiliki perusahaan kelas dunia yang dapat dijadikan contoh (benchmark), yaitu P&G terkenal dengan  falsafah “Business integrity, fair treatment for employees”, IBM dengan “IBM means services” , Nokia lewat “connecting peoples”dan GE dengan falsafahnya “Progress is our most important product”.
 

PT. Astra International Tbk, jauh hari sebelum menerapkan GCG di perusahaan, ternyata telah memiliki nilai budaya yang disebut Catur Dharma. Teddy P. Rahmat saat menjadi CEO di Astra International pada awal tahun 1980-an, pernah mengatakan bahwa esensi budaya perusahaan adalah kepemimpinan. Beliau termasuk orang pertama yang menganggap perlu adanya budaya dan tata nilai, sekaligus yang ikut menjalankan dan mendorongnya. Hal ini merupakan satu cara untuk menciptakan budaya perusahaan yang sesuai sehingga dapat mendorong pengambilan keputusan serta  mengendalikan tingkah laku dalam berbisnis.
 

 Beberapa BUMN besar seperti PT Timah, PT Krakatau Steel dan PT PLN juga telah memiliki budaya perusahaan. Misalnya, PT Timah  memiliki 3 (tiga) dasar pedoman yaitu Solidaritas, Keterbukaan dan Integritas. PT Timah yang awalnya hampir kolaps, dengan menjalankan budaya perusahaan secara konsisten,  akhirnya bisa bangkit kembali menjadi perusahaan pertambangan kelas dunia (word class company)
 

Berbagai perusahaan telah menjalankan nilai-nilai budaya perusahaan yang telah dianutnya dalam aktivitas bisnis sehari-hari, seperti kerja keras, disiplin, integritas, pembelajar dll. Nilai kerja keras merupakan suatu usaha bersungguh-sungguh tanpa melakukan penundaan waktu, artinya pekerjaan yang bisa diselesaikan pada hari ini,   akan diselesaikan pada hari ini juga. Selain itu pekerjaan dilakukan dengan berkonsentrasi penuh,  sehingga bisa terhindar dari pemborosan (inefisiensi),  baik waktu,  tenaga,  maupun biaya. Kerja keras memerlukan rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak cepat putus asa dan selalu memiliki semangat pantang menyerah. Nilai disiplin   tidak hanya ditunjukkan datang tepat waktu atau tidak terlambat, namun juga menepati acara-acara rapat. Disiplin juga memiliki arti menepati janji yang telah disanggupi,  menepati kesepakatan bersama,  serta dapat dijadikan teladan yang baik. Nilai integritas ini ditunjukkan dari sikap yang secara konsisten menunjukkan kejujuran, kesesuaian antara perkataan dan tindakan serta penuh rasa tanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan.  Nilai pembelajar ditunjukkan dari sikap untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bersedia menjalani pendidikan profesi berkelanjutan (PPL) sesuai bidang masing-masing. Seorang yang termasuk pembelajar biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, bersedia berbagi  pengetahuan (knowledge) dan  pengalamannya  serta menghargai pemikiran ( ide) baru dan hasil karya yang inovatif.
 

Hubungan antara GCG dan budaya perusahaan ternyata berbanding lurus. Implementasi GCG di perusahaan dapat berhasil dengan lancar dan sukses  apabila didukung dengan internalisasi budaya perusahaan yang baik. Tanpa budaya perusahaan yang kuat dan dijalankan  secara konsisten, maka implementasi GCG akan mengalami kesulitan bahkan bisa mengalami kegagalan. Semoga budaya perusahaan dapat benar-benar dipahami dan diaplikasikan oleh karyawan dan pimpinan perusahaan dalam kegiatan bisnis sehari-hari sehingga upaya untuk mewujudkan GCG bukan sekedar slogan namun  menjadi kenyataan.***

*) Muh Arief Effendi SE MSi Ak QIA, bekerja sebagai internal auditor sebuah BUMN serta Dosen Luar Biasa di FE Universitas Trisakti, STIE Trisakti & FE Universitas Mercu Buana Jakarta.

 

11 Responses

  1. Salam kenal… Saya tertarik membaca tulisan bapak mengenai GCG, dan saya ingin sharing sebagai sesama praktisi GCG.

    Perkenalkan nama saya Mohamad Fajri. Saya merupakan konsultan GCG selama hampir 5 tahun. Jabatan terakhir saya adalah Senior Associate pada SDP Consulting (d/h Sofyan Djalil & Partners). Mudah2an kalau bapak tidak keberatan suatu saat kita bisa bekerjsama dalam berbagai bidang.

    Saya dapat dihubungi di fajriputra@yahoo.com atau telp esia saya 021 93186621.

    Terimakasih atas perhatiannya.
    best regards,
    Fajri

    Like

  2. Terima kasih, atas ajakan kerjasamanya.
    Kebetulan saya telah menyelesaikan naskah buku tentang GCG (20 bab). Pada hari Jum’at 8 Februari 2008 sudah saya serahkan ke sebuah penerbit di Jakarta yang bersedia menerbitkan naskah buku tsb. Mudah2an semuanya lancar dan dalam waktu dekat bisa segera terbit sehingga bisa beredar di toko buku.

    Apabila buku saya telah terbit, Kita bisa bekerja sama, misalnya dalam acara “bedah buku” atau seminar / lokakarya tentang GCG.

    Saya juga sangat senang, karena kita bisa saling sharing informasi , terutama ttg GCG. OK.

    Like

  3. Oke pak. kalau sudah terbit bukunya mohon saya diberitahu, insya Allah nanti saya yang jadi pembeli pertama.

    terimakasih. semoga sukses selalu.

    Like

  4. Dear Bp,
    Saya mahasiswa s2 untuk manajemen, kebetulan thesis saya adalah implementasi GCG di sebuah BUMN. Kendala yang saya hadapi, teori yang bisa saya gunakan adalah 7S McKinsey selain value concept. Tetapi bagaimana menghubungkan ke tiganya dengan prinsip tarif GCG. Sudah kita ketahui, banyak GCG tidak berkorelasi penuh terhadap kinerja BUMN, lebih kepada nilai2 nya. Mohon sharing pengalaman bapak dan literatur yang bisa mendukungnya.

    Regards
    sha

    Like

  5. Sdr. Sha, sebenarnya apabila GCG diimplementasikan secara sungguh-sungguh dan konsisten berkorelasi dengan kinerja perusahaan. Sayangnya selama ini GCG sebagian besar hanya sekedar “simbol” atau “buku pedoman” yang hanya disimpan dilaci atau rak-rak buku saja, sehingga keberadaan GCG tidak menjiwai dalam “ruh” perusahaan, maka wajar jika hasilnya kurang maksimal.
    Beberapa referensi yang bisa anda gunakan antara lain : artikel-artikel saya tentang GCG di website ini serta anda bisa mendownload beberapa artikel dari jurnal, misalnya “Accounting Research-50-SNA10-GCG dan Kinerja BUMN di Indonesia ” dll. OK

    Like

  6. aslm…
    pak, saya thea, mahasiswa semester 6 yang sedang menyusun skripsi tentang pengaruh -penerapan GCG terhadap peningkatan kinerja perbankan. akantetapi saya kesulitan untuk menemukan teori yang sesuai dengan judul tersebut. apabila tidak berkeberatan, dapatkah bapak membantu saya untuk menemukan atau memberikan referensi tentang buku atau artikel yang bisa mendukung? terimakasih sebelumnya.
    wass…

    Like

  7. Sdr. Thea, silahkan anda download tulisan / artikel tentang GCG di website ini. Terdapat beberapa judul buku yang membahas penerapan GCG di perbankan, anda dapat membeli di toko buku. Sekedar info, buku saya yang berjudul “The Power of GCG : Concept & Implementation / Kekuatan Tata Kelola Perusahaan yang baik : konsep & Implementasi”, saat ini sedang proses lay out & finalisasi editing. Semoga segera terbit.

    Like

  8. Pak, apakah buku bapak sudah terbit? mohon informasinya.
    Terimakasih

    Like

  9. Pak Fajri, insya Allah buku saya terbit akhir bulan Oktober / awal Nopember 2008 dalam 2 (dua) edisi, soft cover dan hard cover. Saat ini masih finalisasi editing dan proses pembuatan cover buku. Namun sudah ada yang menjadwalkan acara bedah buku & seminar ttg GCG, yaitu di Balikpapan pada pertengahan Nopember 2008 (bedah buku perdana).
    Sedangkan di tempat / kota lain menyusul.
    Silahkan jika Bpk yang bekerja di Konsultan GCG juga akan menyelenggarakan semacam acara Bedah Buku / Seminar ttg GCG, agar dijadwalkan terlebih dahulu dan saya diberitahu sejak awal, sehingga dapat berjalan dengan lancar, yang jelas waktunya setelah bln Nopember 2008, karena bulan Nopember ini sudah banyak acara yang sdh terjadwal, mis tgl 17 Nopember 2008, saya diminta memberikan Seminar di FE UI dalam acara ATV (Auditing, Training & Vacancy Company). OK.

    Like

  10. Salam Pak…

    Saya tertarik dengan tulisan bapak yang ini, bagaimana menurut bapak Pengaruh Budaya organisasi terhadap GCG dan budaya organisasi yang bagaimana yang bisa menopang GCG. Karena banyak tulisan yang saya baca GCG itu juga adalah budaya yang seharusnya .

    Terima kasih

    Like

  11. Sdr. Ester, budaya perusahaan / corporate culture sebagai inti dari GCG. Keberhasilan implementasi GCG dalam pengelolaan perusahaan pada era globalisasi sangat tergantung adanya nilai-nilai budaya perusahaan yang dianut dan dipraktekkan dilingkungan perusahaan.
    Ruang lingkup GCG lebih luas dibandingkan dengan budaya perusahaan. Pengaruh budaya perusahaan sangat penting terhadap kesuksesan GCG. OK.

    Like

Comments are closed.

%d bloggers like this: