Prinsip GCG dalam Rekrutmen Direksi BUMN


PRINSIP  GCG  DALAM  REKRUTMEN DIREKSI  BUMN 

(Artikel ini telah dimuat di website http://www.portalhr.com, Edisi hari Selasa, 08 Januari 2008 pada Rubrik “KOLOM”, Indonesian Human Resource Management -PortalHR.com adalah portal internet yang mengkhususkan diri pada bidang Human Resource / sumberdaya manusia). 

Oleh : Muh. Arief Effendi *)   

Akhir-akhir ini masalah seleksi (rekrutmen) calon Direksi BUMN banyak mendapatkan sorotan. Dalam era transparansi  seperti saat ini, sudah tidak zamannya lagi rekrutmen atas calon Direksi BUMN dilakukan secara tertutup dan beraroma Kolusi dan Nepotisme. Beberapa waktu yang lalu Menteri BUMN telah melantik para Direksi BUMN. Mudah-mudahan dalam rekrutmen Direksi BUMN tersebut telah menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Adanya transparansi dalam rekrutmen Direksi BUMN merupakan salah satu implementasi dari prinsip-prinsip GCG. 

Regulasi

Ketentuan tentang rekrutmen Direksi BUMN telah diatur pada pasal 16 UU No. 13 tahun 2003 tentang BUMN. Pertama, Anggota Direksi diangkat berdasarkan pertimbangan keahlian, integritas, kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku yang baik, serta dedikasi yang tinggi untuk memajukan dan mengembangkan Persero. Kedua,  Pengangkatan anggota Direksi dilakukan melalui mekanisme uji kelayakan dan kepatutan. Ketiga, Calon anggota Direksi yang telah dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan wajib menandatangani kontrak manajemen sebelum ditetapkan pengangkatannya sebagai anggota Direksi.

Dalam penjelasan pasal 16 UU tersebut, antara lain disebutkan untuk memperoleh calon-calon anggota Direksi yang terbaik, diperlukan seleksi melalui fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang dilakukan secara transparan, profesional, mandiri dan dapat dipertanggungjawabkan. Uji kelayakan dan kepatutan tersebut dilakukan oleh suatu tim yang ditunjuk oleh Menteri selaku RUPS dalam hal seluruh sahamnya dimiliki oleh negara, dan ditunjuk oleh Menteri selaku pemegang saham dalam hal sebagian sahamnya dimiliki oleh negara, khusus bagi Direksi yang mewakili unsur pemerintah. Anggota-anggota tim yang ditunjuk oleh Menteri harus memenuhi kriteria antara lain profesionalitas,  pemahaman bidang manajemen dan usaha BUMN yang bersangkutan, tidak memiliki benturan kepentingan dengan calon anggota direksi yang bersangkutan dan memiliki integritas serta dedikasi yang tinggi. Menteri dapat pula menunjuk lembaga profesional yang independen untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon-calon anggota direksi Persero.   

Mekanisme seleksi

Pemerintah melalui Kementerian BUMN memiliki wewenang untuk melakukan rekrutmen calon Direksi dalam rangka mengisi kekosongan beberapa Direksi BUMN. Sumber perekrutan Direksi BUMN selain usulan dari Komisaris BUMN dapat juga dilakukan melalui perburuan orang (head hunter) secara langsung.

Mekanisme seleksi Direksi BUMNdilakukan paling tidak melalui 6 (enam)  tahapan. Pertama, bakal calon masuk dalam daftar (long list) pertama yang diusulkan oleh masing-masing Komisaris BUMN. Kedua, Calon yang lulus masuk dalam tahap long list kedua yang diuji oleh konsultan dan Departemen terkait melalui rapat tim evaluasi. Ketiga, Nama-nama calon diperingkat sesuai hasil penilaian konsultan. Keempat, Nama-nama calon dimasukkan ke Tim Evaluasi di Kementerian BUMN. Pada tahap ini para calon kembali dibuat ranking tahap kedua untuk selanjutnya  hasil fit & proper test  diserahkan ke Menteri BUMN. Kelima, Hasil fit & proper test diserahkan ke Tim Penilai Akhir (TPA). Keenam, Setelah diproses di TPA baru dapat ditetapkan siapa yang berhak menjadi Direksi BUMN yang dituangkan melalui surat keputusan.

Selain itu Kementerian BUMN juga membentuk Tim Evaluasi Calon Direksi yang diketuai oleh Sekretaris Menteri BUMN, para Deputi Menteri menjadi wakil ketua serta ditambah tiga orang anggota yang ditunjuk langsung oleh Menteri BUMN. Nama bakal calon (balon) Direksi ditentukan hasil rapat Tim dan akan dikirim ke konsultan independen untuk diwawancarai melalui audio visual bukan berhadapan langsung. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga independensi dan menghindari unsur subyektivitas. Dari hasil tes wawancara akan diperoleh lima nama calon direksi yang akan disampaikan ke Menteri BUMN. Menteri BUMN mempunyai hak untuk mencoret dua nama, sehingga menjadi tinggal tiga nama yang akan diajukan kepada TPA yang diketuai oleh Presiden. Sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 / 2005 tentang Pengangkatan Anggota Direksi dan Komisaris Dewan atau Pengawas BUMN, untuk pengangkatan calon direksi BUMN, sebelum dibawa dalam RUPS, para calon itu sudah melewati satu penilaian akhir dari TPA yang terdiri atas Presiden, Wakil Presiden, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN), Menneg BUMN, Sekretaris Kabinet, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), serta menteri teknis yang lingkup tugasnya meliputi bidang kegiatan dari usaha BUMN itu. 

Menurut Sekretaris Meneg BUMN beberapa waktu yang lalu, Menteri Keuangan diikutkan pula dalam Tim Penilai Akhir tersebut. Keikutsertaan Menkeu dalam TPA, menurut pendapat saya cukup wajar, mengingat cakupan dan kewenangan yang melekat pada jabatan Menkeu yang cukup penting dan strategis dalam pengelolaan keuangan negara, termasuk BUMN.   

Tool

Fit & Proper Test merupakan salah satu proses yang harus dilakukan Kementerian BUMN dalam rangka rekrutmen (seleksi) calon Direksi BUMN. Perlu diingat, bahwa proses Fit & Proper Test bukan merupakan tujuan akhir, namun hanya alat untuk mendapatkan calon Direksi sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Oleh karena itu,  untuk menghindari adanya  intervensi pihak lain yang memiliki kepentingan terselubung, baik dari Partai Politik maupun pemegang kekuasaan yang mengakibatkan pengambilan keputusan menjadi tidak netral.

Kita masih ingat, pada masa lalu BUMN menjadi lahan subur “penjarahan” dan sering menjadi  “sapi perah” untuk kepentingan politik praktis pihak-pihak tertentu. Meskipun penentuan Direksi BUMN berada di Tim Penilai Akhir (TPA) namun agar dihindarkan adanya calon titipan yang bertentangan dengan prinsip GCG, terutama kewajaran (fairness)  serta dapat menimbulkan benturan kepentingan (conflict of interest). 

Ujian

Pemerintah dalam hal ini Menteri BUMN mendapat ujian yang cukup berat dalam rangka menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi Direksi BUMN. Hal paling utama yang harus dikedepankan dalam memilih Direksi BUMN adalah masalah kompetensi, integritas serta profesionalisme. Apabila dimungkinkan, hendaknya dipilih calon Direksi yang independen sehingga tidak memiliki benturan kepentingan dan relatif lebih aman. Pemerintah perlu lebih giat lagi dalam  mensosialisasikan fit & proper test Direksi BUMN kepada publik, untuk memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang upaya-upaya Pemerintah dalam rangka rekrutmen Direksi BUMN.

Kita tidak usah heran, jika dalam penjaringan calon Direksi TVRI yang dilakukan oleh Dewan Pengawas TVRI yang lalu dengan cara menayangkan iklan melalui media televisi. Mengingat TVRI adalah lembaga penyiaran publik, maka wajar dalam rekrutmen calon Direksi TVRI dilakukan secara terbuka agar dapat diketahui masyarakat luas serta dalam rangka meningkatkan akuntabilitas terhadap publik.Semoga upaya Pemerintah dalam rekrutmen Direksi BUMN dapat diperoleh orang-orang yang amanah dan kredibel sehingga implementasi prinsip-prinsip GCG dapat terwujud. *** 

*) Muh. Arief Effendi, SE, MSi,Ak,QIA bekerja sebagai internal auditor sebuah BUMN, pemerhati GCG serta Dosen Luar Biasa pada beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta (FE Universitas Trisakti, STIE Trisakti, FE Universitas mercu Buana & Program Magister Akuntansi Universitas Budi Luhur).   

4 Responses

  1. Terimaksih atas tulisan Anda yang dapat mencerahkan ribuan orang. Semoga semua karya tulis Anda selalu menjadi kebaikan dan bermanfaat bagi penulisnya, pembacanya, dan yang merespon dan menindaklanjutinya.

    Syi’arkanlah terus kebajikan walau cuma satu kata, semata-mata karena mengharap ridha, rahmat, dan berkah dari Allah yang maha segalanya.

    Amin… Amin… Amin…

    Lagi-lagi terimakasih banyak…
    Sukses selalu untuk Anda dan keluarga!

    Like

  2. Terima kasih atas tanggapan / respon Pak Djoko, saya hanya sekedar berbagi pengetahuan & pengalaman (knowledge & experience sharing), serta memberikan saran (rekomendasi) yang bermanfaat bagi siapa saja. Mudah2an saran2 yang saya tulis melalui artikel tsb dibaca dan ditindaklanjuti (follow up) oleh yang berkepentingan. Saya memang akan terus berusaha menulis artikel tentang berbagai hal yang dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, karena ini memang sudah menjadi hobby saya sejak masih mahasiswa.
    Sekaligus mudah2an bisa merupakan syi’ar melalui tulisan (dakwah bil qolam). Amin.

    Like

  3. Saya tertarik dengan artikel yang bapak tulis tentang GCG, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, apakah bapak mempunyai acuan atau pedoman pokok untuk melakukan audit GCG.

    Terima Kasih

    Like

  4. Sdr. Nischy, dalam melakukan audit / Self assesment tentang penerapan GCG di suatu perusahaan dapat menggunakan acuan yang disusun oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) yaitu “Corporate Governance Self Assesment Check List“, silahkan anda dapat download di http://www.fcgi.or.id.

    Like

Comments are closed.

%d bloggers like this: