E-reporting System Sebagai Implementasi GCG


E REPORTING SYSTEM SEBAGAI IMPLEMENTASI GCG

(Artikel ini telah dimuat di Harian BISNIS INDONESIA, edisi Sabtu, 10 Mei 2008, pada Rubrik OPINI).

Oleh : Muh. Arief Effendi

Akhir-akhir ini masalah transparansi dan akuntabilitas perusahaan kepada publik banyak mendapat sorotan. Dalam era reformasi dan globalisasi, masyarakat (publik) memerlukan transparansi atas laporan keuangan perusahaan, terutama untuk perusahaan yang telah go publik. Terdapat tiga kendala yang sering dihadapi perusahaan terkait dengan pelaporan keuangan.

Pertama, laporan keuangan belum dapat diterbitkan tepat waktu (on time). Kedua, transparansi laporan keuangan belum memadai. Ketiga, data laporan keuangan belum up to date.
Berbagai kendala tersebut perlu mendapatkan solusi agar dapat terjaga transparansi dan akuntabilitas pelaporan keuangan perusahaan kepada publik.
E-reporting System adalah suatu sistem laporan emiten kepada pemegang saham secara elektronik. Sistem tersebut merupakan salah satu solusi integrasi berdasarkan web bagi suatu organisasi untuk memudahkan pengiriman/pengambilan dokumen dan pelaporan via internet. Sistem ini dibangun untuk meningkatkan pelaksanaan keterbukaan dan pemerataan informasi ke pelaku pasar modal.

Kelancaran e-reporting system ini sangat bergantung pada kesiapan masing-masing emiten dalam penyusunan laporan keuangan yang akan dipaparkan kepada publik.
Penerapan e-reporting system telah biasa diberlakukan secara umum di berbagai otoritas bursa di dunia. Sistem serupa pernah diberlakukan di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) mulai 5 Oktober 2004 sesuai dengan surat edaran No. SE-009/BEJ/10-2004 tentang penerapan penyampaian laporan oleh perusahaan tercatat melalui sistem JSX e-reporting dan monitoring. Setelah berjalan beberapa bulan, akhirnya bursa efek secara resmi mencabut sistem tersebut pada 21 Februari 2005.
Pencabutan e-reporting system tersebut sangat disesalkan oleh berbagai kalangan, karena dinilai dapat menghambat upaya transparansi kepada publik. Menurut pengamatan penulis, ternyata sebagian besar pelaku pasar modal menilai meskipun e-reporting system hanya sempat diterapkan beberapa bulan, tetapi dapat membantu percepatan keterbukaan informasi emiten kepada publik.

Implementasi sistem pelaporan elektronik di industri pasar modal Indonesia juga sudah ditetapkan pada cetak biru pasar modal Indonesia 2005-2009. Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga tengah mengembangkan suatu prototipe sistem e-reporting dalam rangka pemenuhan kebutuhan perusahaan-perusahaan terbuka. Bapepam-LK telah mengkaji manfaat XBRL dalam upaya implementasi sistem pelaporan elektronik (e-reporting system) di industri pasar modal Indonesia.
Selain itu, pada 2006 Bapepam-LK telah mengirimkan dua pegawainya untuk melakukan observasi (internship) di International Accounting Standards Committee Foundation (IASCF) XBRL Team, London, Inggris. Observasi yang dilakukan sekitar satu bulan tersebut mendapatkan bantuan pendanaan dari Bank Dunia melalui ASEM Grant.

Observasi di Inggris tersebut diharapkan akan meningkatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang bagaimana memanfaatkan XBRL dikaitkan dengan rencana pengembangan e-reporting system yang akan dikembangkan dan diterapkan di industri pasar modal.

Terdapat enam manfaat diterapkannya e-reporting system. Pertama, akan mempermudah investor atau publik untuk mendapatkan akses laporan secara real time dan online tanpa melalui emiten. Kedua, investor ataupun publik dapat mengetahui secara cepat informasi tentang emiten, terkait dengan laporan keuangan baik kewajiban triwulan maupun tahunan.

Pererat kerja sama
Ketiga, keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pelaporan keuangan kepada publik lebih terjamin. Keempat, dapat menjamin pemerataan informasi dan mereduksi adanya kesenjangan informasi. Kelima, dapat meningkatkan efisiensi bagi perusahaan terbuka (go public). Keenam, mendorong terwujudnya good corporate governance (GCG).
Agar penerapan e-reporting system dapat berhasil dengan baik maka perlu dilakukan kerja sama antara Bapepam-LK dengan BEJ, sehingga kendala yang dihadapi di lapangan dapat segera teratasi dengan cepat. Hal ini perlu dilakukan, mengingat laporan yang disampaikan para emiten kepada Bapepam dan BEJ hampir sama sehingga perlu disatukan dalam sistem yang terintegrasi (integrated system).

E-reporting system seharusnya dapat menciptakan on-line reporting dari kalangan emiten kepada para regulator seperti Bapepam-LK, Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Mengingat manfaat yang cukup signifikan bagi peningkatan transparansi dan akuntabilitas kepada publik, maka program e-reporting system bagi para emiten di bursa efek tersebut mendesak untuk diberlakukan kembali.

Oleh karena itu, diperlukan political will dari pemerintah untuk menjalankan e-reporting sistem tersebut secara konsisten dan berkelanjutan. Semoga implementasi GCG melalui e-reporting system dapat segera terwujud sebagai upaya transparansi dan akuntabilitas emiten kepada publik.

Muh. Arief Effendi, Dosen Luar Biasa FE Usakti & FE Universitas Mercu Buana, Jakarta

%d bloggers like this: