Alhamdulillah. Blog ini terpilih sebagai Pemenang (No. 1) Top Blog Indonesia Award (TBIA) 2015

Berikut pengumumannya :

Pemenang Blog Award Tahun 2015

Sobat Blogger Indonesia di mana saja berada!

Saat yang ditunggu2 telah tiba dan tahun 2015 telah berlalu meninggalkan kita.
Seperti sebelumnya, Top Blog Indonesia Award (TBIA) Tahun 2015 merupakan sebuah ajang penghargaan yang diberikan kepada pengelola Blog/website/portal dan berbagai jenis layanan konten lainnya yang terdaftar di Direktori Blog Indonesia TopBlogIndonesia.com, baik perseorangan ataupun berkelompok, yang dengan segenap kemampuan, daya upaya dan daya kreatifitasnya telah menuangkan ide, konsep, gagasan dan pikirannya dalam bentuk tulisan maupun gambar secara online.
Acara TBIA tahun 2015 kali ini diikuti oleh sekitar 685 blog yang terdaftar di Direktori Blog Indonesia TopBlogIndonesia.Com. Jujur kami harus akui bahwa teramat sulit bagi kami untuk memilih blog mana yang terbaik tahun ini karena jumlah blog semakin banyak, blognya semakin bagus2, dan masing-masing blog tentunya mempunyai keunikan tersendiri dengan gaya tulisan maupun design blog yang semuanya keren abiiz.
Namun pada akhirnya kami harus memilih satu di antara 685 blog terdaftar untuk dipilih dan menjadi pemenang dalam ajang  TOP BLOG INDONESIA AWARD TAHUN 2015 (TBIA 2015).

Berikut ini adalah data pemenang Blog Award Tahun 2015 :

Data Blog:

Nomor Blog 517
Tgl Terdaftar 22-04-2014
Keterangan Blog ini dimaksudkan untuk Knowledge & Experience Sharing berbagai pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan ilmu Akuntansi (Accounting), Pemeriksaan Akuntansi (Auditing), Pemeriksaan Intern (Internal Auditing)  dan Tatakelola Perusahaan (Corporate Governance).
Tag/Label Pendidikan
Pemilik Blog Muh Arief Effendi
Profesi Blogger Auditor
Kota Cilegon
Page Rank 4
Alamat Blog https://muhariefeffendi.wordpress.com/

Pemenang Blog Award akan dihubungi panitia melalui email resmi iniTopblogindonesiacom@gmail.com untuk  pengiriman hadiah dan verifikasi blog.

Hati-hati terhadap penipuan, program ini tidak dipungut biaya sepeserpun.

Selamat bagi pemenang dan yang belum menang jangan sedih dan berputus asa, Insyaa Alloh masih ada kesempatan untuk Blog Award tahun berikutnya….

Terima kasih untuk para sponsor dan partner kami yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Semoga tahun depan lebih banyak lagi partisipasi dari para sponsor sehingga acara pemberian award ini lebih seru lagi dan bisa memberikan award kepada lebih banyak pemenang dengan banyak kategori blog……..salam blogger, sampai jumpa di TBIA tahun berikutnya…, Sobat!

Panitia TBIA 2015

(Sumber : http://www.topblogindonesia.com/p/pemenang-blog-award-tahun-2015.html)

Certified Internal Auditor (CIA) – Computer Based Testing

THE CERTIFIED INTERNAL AUDITOR (CIA)

The Certified Internal Auditor® (CIA®) designation is the only globally accepted certification for internal auditors and remains the standard by which individuals demonstrate their competency and professionalism in the internal auditing field. Candidates leave the program enriched with educational experience, information, and business tools that can be applied immediately in any organization or business environment.

Computer Based Testing

The CIA exam is available through computer-based testing, allowing you to test year-round at more than 500 locations worldwide. Through the The IIA’s online Certification Candidate Management System (CCMS), candidates may apply/register for certification programs/exams and access their records online.

Exam Content

The Certified Internal Auditor® (CIA®) exam tests a candidate’s knowledge of current internal auditing practices and understanding of internal audit issues, risks and remedies. The exam is offered in four parts, each part consisting of 100 multiple-choice questions.

Parts 1, 2, and 3 are considered the core global syllabus of the CIA exam – offering a strong focus on corporate governance and risk issues and exhibiting alignment with The IIA’s Professional Practices Framework. Part IV of the CIA exam is designed for modification for regional and audit specialization testing. Hence, The IIA offers Professional Recognition Credit for Part 4 (PRC-4) for qualified professional certifications.

Exam Non-disclosure

The CIA exam is a non-disclosed examination, which means that current exam questions and answers will not be published or divulged. Note: Exam topics and/or format are subject to change as approved by the Board of Regents.

Part 1 – The Internal Audit Activity’s Role in Governance, Risk and Control

Part 2 – Conducting the Internal Audit Engagement

Part 3 – Business Analysis and Information Technology

Part 4 – Business Management Skills

Please see website : http://www.theiia.org/certification/certified-internal-auditor/cia-exam-content

Learning Organization & People (Organisasi & Manusia Pembelajar)

LEARNING  ORGANIZATION  &   PEOPLE

(ORGANISASI & MANUSIA PEMBELAJAR)

 

Artikel ini telah dimuat di Majalah Krakatau Steel Group / KSG, Edisi 28 Tahun 3/2008, pada Rubrik “RAGAM”, hlm. 41.

 

Oleh : Muh. Arief Effendi (SPI PT. KS)

 

Dalam era globalisasi dan lingkungan yang penuh ketidakpastian (turbulence environment) mendorong timbulnya organisasi pembelajar (learning organization) dan manusia pembelajar (learning people) di perusahaan. Karyawan sebagai human capital merupakan asset yang tak ternilai harganya di perusahaan. Organisasi pembelajar di suatu  perusahaan dapat memacu para karyawan untuk selalu meningkatkan kompetensi dan kapabilitasnya agar dapat mengikuti perkembangan lingkungan bisnis yang terus menerus berubah.

Orientasi pengembangan sumber daya manusia (human resource) saat ini, menuntut organisasi perusahaan untuk selalu memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi terutama yang di luar organisasi. Kita  menyadari bahwa perubahan terus menerus terjadi sangat cepat. Bahkan semua aspek mengalami perubahan. Di dunia ini, tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.
Organisasi pembelajar yang efektif  adalah organisasi dimana para karyawan pada semua tingkatan (lini) organisasi secara berkesinambungan selalu melakukan indentifikasi masalah-masalah / risiko  potensial (potential risk) dan peluang-peluang (opportunity) yang mungkin timbul.

 

Organisasi Pembelajar

Organisasi pembelajar adalah organisasi yang memiliki minimal 4 (empat) ciri-ciri sebagai berikut :  (1). Mempunyai kondisi dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan, (2).  Mengembangkan  budaya belajar  tidak hanya di kalangan karyawan saja, namun sampai pada pelanggan (customer) , pemasok (supplier) dan stakeholder lain yang signifikan ,  (3). Menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia (human resources strategy) sebagai pusat kebijakan bisnis; serta (4). Berada dalam lingkungan yang selalu melakukan proses transformasi organisasi secara terus menerus. Proses transformasi organisasi ditunjukkan adanya upaya organisasi untuk secara proaktif melakukan perubahan terhadap semua aspek yang ada didalamnya, termasuk karyawan, kepemimpinan (leaderhip), sumber daya (resources), struktur organisasi maupun proses-proses dalam pertukaran informasi.

Melalui organisasi pembelajar, diharapkan muncul kompetisi yang sehat  pada masing-masing karyawan  untuk selalu memberikan hasil yang terbaik, belajar dari pengalaman serta tidak pernah puas terhadap kinerja yang telah dicapai. Selain itu, organisasi pembelajar diharapkan dapat menjadi alat (tool) untuk memotivasi semangat para  karyawan untuk terus maju dan berkembang bersama perusahaan.


Manusia Pembelajar

Menurut Kaplan & Norton (1996)  dalam perspektif pembelajaran & pertumbuhan  (learning perspective & growth) terdapat tiga faktor yang harus diperhatikan, yaitu kapabilitas karyawan (employee capabilities), kapabilitas sistem informasi (information system capabilities) serta motivasi, pemberdayaan & penyetaraan (motivation, empowerment & alignment)

Manajemen perlu mendorong karyawan yang memiliki keahlian (kapabilitas) bidang tertentu yang spesifik serta mampu melakukan presentasi untuk menjadi instruktur di Pusdiklat untuk menyampaikan pengetahuan & pengalamannya, sehingga terdapat transfer of knowledge yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan. Kewajiban untuk melakukan transfer of knowledge ini terutama ditujukan kepada karyawan yang mendekati pensiun, sehingga kaderisasi lebih berjalan dengan lancar. Apabila diperlukan, meskipun karyawan tersebut telah pensiun, karena memiliki keahlian khusus, masih bisa dimanfaatkan sebagai tenaga instruktur di Pusdiklat.

Karyawan yang termasuk manusia pembelajar ditunjukkan dari sikap untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bersedia menjalani pendidikan profesi berkelanjutan (PPL) sesuai bidang masing-masing. Manusia pembelajar biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, bersedia berbagi  pengetahuan (knowledge sharing) dan  berbagi pengalaman (experience sharing)  serta menghargai pemikiran (ide) baru dan hasil karya yang inovatif. Agar organisasi pembelajar dapat berjalan dengan lancar, maka  para karyawan perlu saling bertukar informasi (information sharing)  serta saling berbagi pengetahuan & pengalaman (knowledge & experience sharing). Motivasi dan keahlian karyawan tidak cukup untuk menunjang pencapaian visi dan misi organisasi, tanpa ditopang oleh informasi yang memadai.  Dalam hal ini, para karyawan memerlukan informasi yang akurat dan tepat waktu (up to date). Selain itu, para karyawan dituntut untuk selalu berpikir kreatif & inovatif (creative & innovative thinking) sehingga timbul perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement) di segala bidang. Oleh sebab itu, perusahaan harus memberdayakan karyawan serta memberikan kesempatan atau peluang kepada karyawan untuk selalu meningkatkan pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill).

Mengingat pentingnya peran organisasi & manusia pembelajar dalam menjaga perusahaan agar tetap eksis dan bersaing (survive), maka sudah saatnya manajemen perusahaan mengembangkan organisasi & manusia pembelajar secara konsisten sehingga dapat tercapai sustainable company sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam visi & misi perusahaan.***

Merangsang Siswa Agar Gemar Menulis

MERANGSANG SISWA AGAR GEMAR MENULIS 

(Artikel ini telah dimuat di Tabloid Pendidikan GOCARA, Edisi 10, Maret 2008,  hlm. 22-23, pada Rubrik ”SUARA PENDIDIK”) 

Oleh : Muh. Arief Effendi,SE,MSi 

Dewasa ini minat para  pelajar SMP/SMA terhadap penelitian dan penulisan karya ilmiah masih sangat rendah. Hal ini terbukti belum membudayanya tradisi kepenulisan karya ilmiah dan masih sedikitnya Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang terbentuk di sekolah-sekolah, baik tingkat SMP maupun SMA.  Karya tulis ilmiah merupakan jenis tulisan dengan menggunakan metodologi tertentu dalam penyusunannya. Dalam hal ini memerlukan analisis data-data hasil penelitian sehingga menghasilkan suatu kesimpulan. Karya ilmiah termasuk jenis tulisan non fiksi. Kelompok Ilmiah remaja (KIR)  merupakan suatu kelompok dimana para siswa dengan kesamaan minat pada ilmu pengetahuan berkumpul.  Pelajar yang ingin memperdalam ilmu yang didapatnya disekolah dibina melalui KIR secara intensif dalam bimbingan guru. Pembinaan KIR dapat melibatkan praktisi yang berpengalaman yang berasal dari alumni maupun pengurus Komite Sekolah yang memiliki kompetensi keilmuan tertentu. Tujuan utama dibentuknya KIR adalah memberikan wadah bagi para pelajar yang tertarik untuk mengetahui berbagai jenis kejadian, baik yang terjadi di alam maupun dalam kehidupan sehari-hari melalui penelitian dan menuliskannya dalam bentuk  karya ilmiah. KIR di SMP/SMA dapat dikelompokkan atas tiga bidang yaitu Sains /Ilmu Pengetahuan Alam, Sosial & Budaya dan Teknologi.   

Lomba KIR

Berbagai jenis lomba tentang KIR yang diselenggarakan di berbagai sekolah / kampus, instansi / lembaga pemerintah mapun pihak prusahaan swasta & BUMN yang menaruh minat dalam pengembangan penelitian bagi pelajar SMP / SMA, sebagai berikut :

1.      Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR)

LKIR diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia & Televisi Republik Indonesia (LIPI-TVRI) setiap tahun menjelang perayaan HUT Proklamasi RI. LKIR dapat diikuti oleh siswa tingkat SMP dan SMA dari seluruh Indonesia. LKIR dibagi berdasar 3 (tiga) pokok bahasan terkait, yaitu bidang Ilmu Pengetahuan Sosial & Kemanusiaan (IPSK), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT). Melalui LKIR ini diharapkan dapat dijaring calon-calon peneliti muda yang berbakat. Mereka adalah remaja yang kreatif dan inovatif dalam menuangkan gagasannya. Minat untuk melakukan penelitian di kalangan remaja memang bisa tumbuh pada siswa tingkat SMP / SMA, dimanapun mereka berada. Beberapa pelajar yang sering mempertanyakan sesuatu hal secara mendalam, biasanya memiliki naluri yang kuat untuk meneliti.

 Prinsip dasar dari suatu penelitian adalah adanya keingintahuan yang diwujudkan dalam berbagai pertanyaan. Apabila pelajar tersebut tergerak untuk mengembangkan keingintahuan itu dengan membuat serangkaian hipotesis, mengujinya dengan fakta yang dikumpulkan, kemudian menyusunnya dalam sebuah karya yang sistematis, maka dapat menghasilkan suatu karya ilmiah. Tentu saja tidak dapat dibandingkan sistematika KIR seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP/SMA dengan skripsi seorang sarjana. Namun, tidak tertutup kemungkinan gagasan penelitian remaja lebih cemerlang, orisinal, dan berguna bagi masyarakat.  Tujuan diselenggarakan LKIR, antara lain :

a.      Memberi kesempatan kepada remaja (pelajar)  untuk menerapkan ilmu yang pernah dipelajari terhadap masalah yang dihadapi sehari-hari.

b.     Menimbulkan minat para remaja (pelajar) untuk melatih diri dalam menghadapi tantangan lingkungan yang berubah-ubah dan mencari cara untuk menghadapi tantangan.

c.       Membentuk watak yang menghormati kejujuran, ketekunan dan kecermatan, serta berpandangan terbuka karena watak itulah yang harus dimiliki seorang peneliti.

2.      LPIR

Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional setiap tahun secara rutin sejak tahun 1977. Sebelumnya lomba tersebut dinamakan Lomba Karya Ilmu Pengetahuan untuk Remaja. Tujuan LPIR untuk meningkatkan daya nalar, mengasah serta menguji kreativitas  pelajar SMP /SMA. Melalui LPIR diharapkan dapat menggugah minat remaja untuk melakukan penelitian. Ruang lingkup penelitian antara lain bidang pertanian, biologi, matematika, fisika terapan, kimia terapan, sosiologi, antropologi, lingkungan, dan sosial-budaya. Pihak Pimpinan Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum) telah mengirim brosur ke seluruh SMP/SMA di Tanah Air. Bahkan, Dinas Pendidikan tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota pun telah diminta untuk mensosialisasikan LPIR tersebut. 

3.      LKTI

Beberapa perusahaan baik swasta maupun BUMN, Instansi Pemerintah tingkat Pusat , Provinsi dan Kabupaten / Kodya serta kampus perguruan tinggi  juga sering mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dengan topik khusus, misalnya perkoperasian, lingkungan hidup, penyalahgunaan narkoba, kesehatan reproduksi bagi remaja dan lain-lain.Sebagai Ketua Komite Sekolah,  penulis telah memberikan pelatihan teknik penulisan karya tulis ilmiah dan sosialisasi KIR bagi pelajar SMP awal tahun 2007 yang lalu. Ternyata banyak pelajar SMP yang belum mengetahui seluk beluk karya ilmiah. Oleh karena itu wajar, jika mereka masih belum bisa menulis suatu karya ilmiah, karena pengetahuan tentang karya tulis ilmiah masih terbatas. 

Untuk meningkatkan minat penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah di kalangan pelajar  SMP/SMA , dapat ditempuh beberapa langkah sebagai berikut :

1.      Perlu dilakukan pelatihan (workshop) tentang penelitian dan teknik penulisan karya ilmiah bagi pelajar SMP/SMA secara periodik untuk meningkatkan ketrampilan dalam menghasilkan karya tulis ilmiah.

2.      Pihak pimpinan sekolah & dewan guru agar membentuk KIR sesuai dengan minat para pelajar,  memberikan dorongan untuk melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah.

3.      Pihak pimpinan sekolah melakukan pembinaan secara periodik terhadap KIR yang sudah terbentuk dengan mengikutsertakan dalam lomba / kompetisi baik tingkat lokal, nasional maupun internasional. 

Penulis adalah Pemerhati Pendidikan,  Ketua Komite Sekolah sebuah SMP Swasta (SMPIT-RJ). 

CATATAN :

Artikel ini merupakan ikhtisar (summary) dari makalah (paper) saya yang berjudul “Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dan Sosialisasi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi Siswa SMPIT-RJ” yang sudah saya presentasikan pada hari Sabtu, tanggal 17 Februari 2007 di SMPIT-RJ dan  terinspirasi dari kepedulian penulis sebagai Ketua Komite Sekolah terhadap masih rendahnya minat para pelajar (siswa) dalam menulis karya ilmiah.

Pemberdayaan Komite Sekolah

PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH 

(Artikel opini ini telah dimuat di Harian RADAR BANTEN, edisi hari Jum’at tanggal 18 Januari 2008, pada Rubrik ”Wacana Publik”). 

Oleh : Muh. Arief Effendi

Akhir-akhir ini Komite Sekolah banyak mendapatkan sorotan. Hal ini wajar, sebab peran Komite Sekolah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti diketahui, Komite Sekolah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Sesuai SK, Komite Sekolah tidak memiliki hubungan hierarkis dengan lembaga pemerintahan.  Komite ini merupakan sebuah badan mandiri yang berfungsi mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan dan efisiensi pengelolaan pendidikan di tiap-tiap satuan pendidikan atau sekolah. Selain itu, sesuai UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Pasal 56 dan Pasal 66 telah secara eksplisit menyebutkan keberadaan Komite Sekolah. Sebelum dibentuk Komite Sekolah, kita mengenal adanya Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) di tiap-tiap sekolah dan  Persatuan Orang tua Murid & Guru (POMG).

Komite Sekolah terdiri atas orang tua/wali murid, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, dunia usaha/industri, organisasi profesi tenaga pendidikan/guru, wakil alumni, dan wakil dari siswa (khusus untuk SLTA). Angggota Komite  juga disebutkan sekurang-kurangnya berjumlah sembilan orang dan jumlahnya harus gasal. Anggota Komite dapat melibatkan dewan guru dan yayasan atau lembaga penyelenggara pendidikan maksimal berjumlah tiga orang. Syarat-syarat, hak, dan kewajiban, serta masa keanggotaan Komite Sekolah biasanya ditetapkan dalam AD/ART.  

Dalam pengamatan penulis, saat ini masih banyak Komite yang belum memiliki AD/ART. Sebagian besar peran Komite masih terbatas pada pengumpulan dana untuk mendukung pembangunan sarana dan prasarana Sekolah. Masih sedikit Komite yang berperan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, terutama mutu lulusannya termasuk mutu proses belajar mengajar. Selain itu masih terdapat kehadiran Komite hanya sebagai pelengkap saja atau sekedar memenuhi aspek formalitas legal sesuai SK Mendiknas.  

Tujuan & Fungsi

Tujuan pembentukan Komite untuk mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. Selain itu, untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan serta menciptakan suasana dan kondisi yang transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di sekolah. Komite  memiliki fungsi mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Komite juga berfungsi menampung dan menganalisis aspirasi, pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan masyarakat. Fungsi lainnya adalah mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. 

Komite memiliki 4 (empat) peran yang sangat penting yaitu sebagai pemberi masukan / Badan Pertimbangan (Advisory Agency), pendorong (motivator) atau Badan Pendukung (Supporting Agency),  Badan Pengawas / Pengontrol (Controlling Agency) dan Badan Penghubung (Mediator Agency). Peran Komite sebagai advisor, yaitu dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.  Peran motivator, dapat  berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan. Peran Komite  sebagai pengontrol dalam rangka transparansi penggunaan alokasi dana pendidikan dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan., termasuk dalam mengawasi penggunaan dana bantuan dari pusat yang mengalir ke sekolah agar lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut penjelasan dari Kementerian pendidikan nasional, pemberian dana dari pusat ke sekolah secara block grant mempersyaratkan adanya pengawasan dari Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan (yang ada di tiap-tiap Kabupaten / Kota).  Hal ini dimaksudkan agar  penggunaan dana baik yang berasal dari masyarakat maupun pemerintah dapat benar-benar efektif dan termonitor alokasinya, apakah sesuai dengan Rancangan Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang diajukan satuan pendidikan / sekolah. Sedangkan peran Komite sebagai   mediator, yaitu sebagai perantara / penghubung  Sekolah dengan masyarakat, atau antara sekolah dengan Dinas Pendidikan/pemerintah (eksekutif) serta memberdayakan sumber daya yang ada pada orang tua bagi pelaksanaan pendidikan di sekolah.  

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai Ketua Komite Sekolah, saat ini Komite juga dilibatkan dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun oleh sekolah. Selain itu, Komite juga melakukan pendampingan terhadap siswa yang mengikuti even perlombaan atau kompetisi, baik lingkup lokal maupun nasional. Komite juga dapat mengadakan seminar atau ceramah tentang upaya meningkatkan kualitas belajar dan mengajar , sehingga sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan dan lulusan. Hal yang tidak kalah penting adalah Komite  juga dapat mendorong untuk meningkatkan penelitian dikalangan siswa dengan pembentukan kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Jika diperlukan dapat diadakan lokakarya penulisan karya ilmiah dan  sosialisasi KIR  dikalangan siswa. (*) 

Penulis adalah pemerhati  pendidikan.

Tantangan untuk menjadi Seorang Auditor Internal yang Profesional (Challenge to be The Professional Internal Auditor)

TANTANGAN UNTUK MENJADI SEORANG AUDITOR INTERNAL YANG PROFESIONAL (CHALLENGE TO BE THE PROFESSIONAL INTERNAL AUDITOR)

Makalah (Paper) ini telah dipresentasikan pada acara Seminar (Kuliah Umum) di STIE Trisakti Jakarta pada hari Sabtu tanggal 8 Desember 2007

Oleh : Muh. Arief Effendi, SE, MSi,Ak, QIA *)

 A.    Pendahuluan
 

Pengertian audit internal menurut “Professional Practices Framework”: International Standards for The Professional Practice of Internal Audit, IIA ( 2004) adalah suatu aktivitas independen, yang memberikan jaminan keyakinan serta konsultasi (consulting) yang dirancang untuk memberikan suatu nilai tambah (to add value) serta meningkatkan (improve) kegiatan operasi organisasi. Internal auditing membantu organisasi dalam usaha mencapai tujuannya dengan cara memberikan suatu pendekatan disiplin yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas manajemen risiko (risk management), pengendalian (control) dan proses tata kelola  (governance processes).  

B.     Perkembangan Profesi 

Profesi audit internal mengalami perkembangan cukup berarti pada awal abad 21, sejak munculnya kasus Enron & Worldcom yang menghebohkan kalangan dunia usaha. Meskipun reputasi audit internal sempat terpuruk oleh berbagai kasus kolapsnya beberapa perusahaan tersebut yang melibatkan peran auditor, namun profesi auditor internal ternyata semakin hari semakin dihargai dalam organisasi.Saat ini profesi auditor internal turut berperan dalam implementasi Good Corporate Governance (GCG) di perusahaan maupun Good Government Governance (GGG) di pemerintahan. 

C.    Kebutuhan tenaga Internal Auditor 

Profesi auditor internal sangat dibutuhkan oleh suatu organisasi apapun, baik perusahaan swasta, BUMN/BUMD, perusahaan multinasional, perusahaan asing, pemerintahan, lembaga pendidikan dan Organisasi Nir Laba. Dalam melakukan rekrutmen terhadap tenaga auditor internal untuk suatu organisasi, selain dapat diambil dari karyawan / staf dari bagian / Divisi lain, juga diperoleh dari pihak luar organisasi,  baik yang telah berpengalaman maupun yang baru lulus dari perguruan tinggi (fresh graduate). Persaingan untuk memperebutkan posisi auditor internal ternyata lebih ketat dibandingkan posisi tenaga staf akuntansi (accounting staff) atau auditor untuk Kantor Akuntan Publik (KAP), sebab auditor internal dapat diperebutkan oleh lulusan dari berbagai disiplin ilmu serta berbagai pengalaman kerja. 

Berikut beberapa organisasi yang memerlukan tenaga auditor internal : 

 

 

NO.

ORGANISASI UNIT KERJA
1 BUMN / BUMD Satuan Pengawasan Intern (SPI)
2 Departemen / Lembaga Pemerintah Ø        Inspektorat Jenderal Departemen.
Ø        Unit Pengawasan Lembaga
Ø        Badan Pengawasan Keuangan & Pembangunan (BPKP)
3 Pemerintah Daerah (PEMDA) Ø        Badan Pengawasan Daerah (Bawasda)
4 Lembaga Pendidikan / Universitas Ø        Badan Audit Internal
Ø        Dewan Audit
5 Perusahaan (Swasta, Multi Nasional, Asing) Ø        Dept. Audit Internal
6 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ø        Unit Audit Internal

 D.    Standar Profesi 

1.      Nasional 

 

Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal pada tanggal 12 Mei 2004 telah menetapkan Standar Profesi Audit Internal (SPAI) dan wajib diterapkan semua anggota organisasi profesi yang tergabung dalam konsorsium dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 2005. Konsorsium merekomendasikan anggota IIA Indonesia Chapter, Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern (FK SPI) BUMN/BUMD,  Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA), Dewan Sertifikasi Qualified Internal Auditor (QIA) dan Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAII) agar segera memasukkan (mengadopsi) jiwa yang terdapat dalam butir-butir standar ini kedalam Audit Charter, pedoman, kebijakan serta prosedur audit internal yang ada pada organisasi masing-masing. 

2.      Internasional 

The Standards for The Professional Practice of Internal Auditing (SPPIA) tahun 2002 yang ditetapkan oleh The Institute of Internal Auditors mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2002 merupakan revisi dari SPPIA tahun 1999.

Tujuan dari SPPIA adalah :

·        Menggambarkan dengan jelas bahwa prinsip dasar dari pelaksanaan audit internal diterapkan.

·        Menyiapkan kerangka pelaksanaan dan promosi aktivitas audit internal yang lebih luas dengan nilai tambah.

·        Menetapkan basis pengukuran pada pelaksanaan audit internal.

·        Membantu perkembangan organisasi dalam proses dan operasinya.

Auditor internal merupakan suatu profesi yang memiliki peranan tertentu yang menjunjung tinggi standar terhadap mutu (kualitas) pekerjaannya. Kepatuhan / ketaatan terhadap SPPIA adalah sangat penting supaya terdapat kesamaan dalam wewenang, fungsi dan tanggungjawab para auditor internal. 

E.     Kode Etik 

Profesi audit internal memiliki kode etik profesi yang harus ditaati dan dijalankan oleh segenap auditor internal. Kode etik tersebut memuat standar perilaku sebagai pedoman bagi seluruh auditor internal. 

1.      Nasional. 

Konsorsium Organisasi Profesi Auditor Internal (2004) telah menetapkan kode etik bagi para auditor internal  yang terdiri dari 10 hal sebagai berikut :

a.            Auditor internal harus menunjukkan kejujuran, obyektivitas dan kesanggupan dalam melaksanakan tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya.

b.            Auditor internal harus menunjukkan loyalitas terhadap organisasinya atau terhadap pihak yang dilayani. Namun demikian, auditor internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpang atau melanggar hukum.

c.             Auditor internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam tindakan atau kegiatan yang dapat mendiskreditkan profesi audit internal atau mendiskreditkan organisasinya.

d.           Auditor internal harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat menibulkan konflik dengan kepentingan organisasinya atau kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka, yang meragukan kemampuannya untuk dapat melaksanakan tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya secara obyektif.

e.            Auditor internal tidak boleh menerima sesuatu dalam bentuk apapun dari karyawan, klien, pelanggan, pemasok ataupun mitra bisnis organisasinya, yang dapat atau patut diduga dapat mempengaruhi pertimbangan profesionalnya.

f.              Auditor internal hanya melakukan jasa-jasa yang dapat diselesikan dengan menggunakan kompetensi profesional yang dimilikinya.

g.            Auditor internal harus mengusahakan berbagai upaya agar senantiasa memenuhi Standar Profesi Audit Internal.

h.            Auditor internal harus bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan tugasnya. Auditor internal tidak boleh menggunakan informasi rahasia (i) untuk mendapatkan keuntungan pribadi, (ii) secara melanggar hukum, (iii) yang dapat menimbulkan kerugian terhadap organisasinya.

i.              Dalam melaporkan hasil pekerjaannya, auditor internal harus mengungkapkan semua fakta-fakta penting yang diketahuinya, yaitu fakta-fakta yang jika tidak diungkap dapat (i) mendistorsi laporan atas kegiatan yang direview, atau (ii) menutupi adanya praktik-praktik yang melanggar hukum.

j.              Auditor internal harus senantiasa meningkatkan kompetensi serta efektivitas dan kualitas pelaksanaan tugasnya. Auditor internal wajib mengikuti pendidikan profesional berkelanjutan. 

2.      Internasional 

Terdapat 4 (empat) prinsip yang harus dipegang teguh dan diterapkan oleh auditor internal menurut IIA yaitu : Integrity , Objectivity, Confidentiality dan Competency   

THE  INSTITUTE  OF  INTERNAL  AUDITORSCODE OF ETHICS – ROLE OF CONDUCT

(Adopted by The IIA Board of Directors, June 17, 2000) 

 

 

 

NO

ROLE OF CONDUCT INTERNAL   AUDITOR   SHALL :
1 Integrity     perform their work with honesty, diligence, and responsibility.
    observe the law and make disclosures expected by the law and the profession.
    not knowingly be a party to any illegal activity, or engage in acts that are   discreditable to the profession of internal auditing or to the organization.
    respect and contribute to the legitimate and ethical objectives of the organization.
2 Objectivity     not participate in any activity or relationship that may impair or be presumed to impair their unbiased assessment.
    not accept anything that may impair or be presumed to impair their professional judgment.
    disclose all material facts known to them that, if not disclosed, may distort the reporting of activities under review.
3 Confidentiality     be prudent in the use and protection of information acquired in the course of their duties.
    not use information for any personal gain or in any manner that would be contrary to the law or detrimental to the legitimate and ethical objectives of the organization.
4 Competency     engage only in those services for which they have the necessary knowledge, skills, and experience.
    perform internal auditing services in accordance with the International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing.
    continually improve their proficiency and the effectiveness and quality of their services.

  F.      Organisasi  Profesi 

1.      Nasional. 

 

a.      Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern (FK SPI)

 Forum ini awalnya bernama FKSPI BUMN/BUMD karena anggotanya para auditor internal yang bekerja pada Satuan Pengawasan Intern (SPI) di BUMN/BUMD. Sehubungan dengan keanggotaan yang terbuka bagi auditor intern yang bekerja di sektor perusahaan swasta, multi nasional maupun asing maka berubah menjadi FK SPI.

b.     Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAII) 

Organisasi ini menghimpun para auditor internal yang telah memiliki gelar Qualified Internal Auditor (QIA). 

c.       Asosiasi Auditor Internal (AAI) 

Anggota AAI tersebar di seluruh Indonesia baik yang berasal dari BUMN/BUMD/Swasta. AAI juga membuka keanggotaan dengan auditor internal dari perguruan tinggi berstatus Badan Hukum Milik Negara dan perusahaan baik BUMN/BUMD maupun privat.

Visi AAI adalah menjadi organisasi profesi terdepan sebagai agen perubahan di bidang audit intern. Sedangkan misi AAI  yaitu :

1).  Menyediakan wadah untuk meningkatkan kompetensi dan integritas anggota secara berkesinambungan;

2).  Mendorong pemberdayakan fungsi dan peran auditor internal;

3).  Meningkatkan kualitas auditor internal sesuai tuntutan perkembangan lingkungan dan standar profesi;

4).  Membangun komitmen anggota dalam pengembangan profesionalisme audit intern.

AAI akan menyelenggarakan Ujian Sertifikasi Auditor Internal untuk meningkatkan penguasaan auditor atas pengetahuan dan komptensi teknis dibidang pelaporan keuangan (financial reporting), Corporate Governance, dan pengawasan perusahaan (corporate control). Juga dalam hal Pencegahan Kecurangan (Fraud Prevention), Pendeteksian Kecurangan (Fraud Detection), dan Penginvestigasian Kecurangan (Fraud Investigation). Ke depan AAI akan menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSF) untuk profesi auditor internal. 

2.      Internasional 

Satu-satunya organisasi profesi yang menghimpun para auditor internal se dunia adalah The Institute of Internal Auditor (IIA). Masing-masing Negara memiliki perwakilan IIA yang beranggotakan pemegang gelar Certified Internal Auditor (CIA), Indonesia juga memiliki yaitu IIA Indonesia Chapter. Setiap tahun IIA mengadakan konferensi internasional yang dihadiri oleh para auditor internal se dunia. Pada tanggal  8-11 Juli 2007, telah diselenggarakan konferensi internasional (International Conference) para auditor internal di Amsterdam, Belanda. 

G.    Sertifikasi 

1.      Nasional. 

a.   Qualified Internal Auditor (QIA) 

QIA adalah gelar kualifikasi dalam bidang internal auditing, yang merupakan simbol profesionalisme dari individu yang menyandang gelar tersebut. Gelar QIA juga merupakan pengakuan bahwa penyandang gelar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sejajar dengan kualifikasi internal auditor kelas dunia. QIA diberikan oleh Dewan Sertifikasi yang terdiri dari unsur-unsur organisasi profesi internal audit terkemuka di Indonesia yaitu unsur Badan Pengawasan Keuangan & Pembangunan (BPKP), Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern , The Institute of Internal Auditor (IIA) Indonesia Chapter, Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAII), YPIA dan akademisi serta praktisi bisnis yang memiliki kompetensi dan komitmen terhadap internal auditing. Sampai saat ini, YPIA adalah satu-satunya lembaga yang diberi wewenang oleh Dewan Sertifikasi untuk menyelenggarakan pendidikan dan Ujian Sertifikasi QIA.

Gelar QIA dapat diperoleh oleh seorang auditor setelah menjalani serangkaian pelatihan / ujian sertifikasi dan dinyatakan lulus yang dilaksanakan oleh Institut Pendidikan Audit Manajemen / Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA) yang terdiri dari 5 (lima) jenjang, sebagai berikut :

¨      Pelatihan Audit Intern Tingkat Dasar I.

¨      Pelatihan Audit Intern Tingkat Dasar II

¨      Pelatihan Audit Intern Tingkat Lanjutan I

¨      Pelatihan Audit Intern Tingkat Lanjutan II

¨      Pelatihan Audit Intern Tingkat Manajerial. 

b.        Professional Internal Auditor (PIA) 

Pusat Pengembangan Akuntansi & Keuangan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PPAK STAN) memberikan pengakuan berupa pemberian sertifikat Professional Internal Auditor (PIA) terhadap peserta Pendidikan & Pelatihan (diklat) auditor internal yang telah menyelesaikan 5 tahapan diklat auditor internal yaitu : 

1). Diklat Dasar-dasar Audit.

2). Diklat Audit Operasional.

3). Diklat Psikologi dan Komunikasi Audit.

4). Diklat Audit Kecurangan.

5). Diklat Pengelolaan Tugas-tugas Audit.

Selain kepada peserta diklat yang telah mengikuti kelima tahapan diklat tersebut, sertifikat Professional Internal Auditor juga diberikan bagi para Kepala Satuan Pengawas Intern dan Kepala Badan Pengawas Daerah yang telah mengikuti Diklat Khusus yang diselenggarakan oleh PPAK STAN. 

2.      Internasional 

Certified Internal Auditor (CIA) merupakan satu-satunya sertifikasi bidang audit internal yang diakui secara internasional.  Gelar CIA saat ini dijadikan sebagai salah satu pengakuan atas integritas, profesionalisme dan kompetensi pemegangnya di bidang audit internal. Pemegang sertifikat CIA akan mendapat pengakuan yang tinggi karena program CIA terkenal memiliki standar pengetahuan, integritas dan profesionalisme yang tinggi pula. Sertifikasi yang dikeluarkan oleh The Institute of Internal Auditors (The IIA) ini diberikan kepada kandidat yang telah lulus dalam 4 (empat) bagian (part)  ujian, sbb :

NEW   CIA   EXAM (Effective as of  May 2004)  

 

 

PART I

The Internal Audit Activity’s Role in Governance, Risk and Control. A.      Comply with the IIA’s Atribute Standard (15 – 25 %).  125 multiple choice questions.
B.       Establish a Risk-based Plan to Determine the Priorities of the Internal Audit Activity (15 – 25 %).
C.       Understand the Internal Audit Activity’s Role in Organizational Governance (10-20%).
D.      Perform Other Internal Audit Roles andResponsibilities (0-10%).
E.       Governance, Risk and Control Knowledge Elements (15-25%).
F.        Plan Engagements (15-25%)
PART II Conducting the Internal Audit Engagement A.      Conduct Engagement (25-35%).  125 multiple choice questions.
B.       Conduct Spesific Engagement (25-35%).
C.       Monitor Engagement Outcome (5-15%).
D.      Fraud Knowledge Elements (5-15%).
E.       Engagement Tools (15-25%).
PART III Business Analysis & Information Technology A.      Business Processes (15-25%). 125 multiple choice questions.
B.       Financial Accounting & Finance (15-25%).
C.       Managerial Accounting (10-20%).
D.      Regulatory, Legal & Economics (5-15%).
E.       Information Technology – IT (30-40%).
PART IV Business Management Skills A.      Strategic Management (20-30%). 125 multiple choice questions.
B.       Global Business Environtments (15-25%).
C.       Organization Behavior (20-30%).
D.      Management Skills (20-30%).
E.       Negotiating (5-15%).

  

 

 

H.    Pendidikan Profesi berkelanjutan (Continued Profession Education)

Sebagai sebuah profesi, organisasi profesi internal auditor mensyaratkan para anggotanya untuk selalu meningkatkan pengetahuan & ketrampilan melalui Pendidikan Profesi berkelanjutan (PPL). Pemegang gelar QIA yang dikeluarkan oleh Dewan sertifikasi QIA harus menjalani PPL sbb :

NILAI    KREDIT   PPL    QIA 

   

 

NO

JALUR KREDIT PPL NILAI KREDIT
1 PENDIDIKAN 1.    Peserta seminar / pelatihan / workshop di Dalam Negeri. 10 Jam / hari  
2.    Peserta seminar / pelatihan / workshop di Luar Negeri. 20 Jam / hari 
3.    Moderator seminar. 20 Jam
4.    Pembicara seminar. 40 Jam
5.    Pengajar Pelatihan Bidang Auditing (Related to Auditing). sesuai jam efektif mengajar.
6.    Kegiatan pembinaan & pengembangan auditor di Kantor Sendiri. Sesuai jam efektif.
2 PUBLIKASI 1.    Penulisan artikel.  20 jam / tiap artikel.
2.    Penulisan Diktat (Modul). 30 jam / tiap diktat (modul).
3.    Penterjemahan Buku 30 jam / tiap buku
4.    Penulisan Buku 60 jam / tiap buku
5.    Editor / penyunting penulisan buku. 30 jam / tiap buku
3 PRAKTISI Praktek sebagai auditor dalam 1 tahun   penuh . Diberi kredit sesuai dengan jam penugasan, dengan kedit max 30 jam per tahun

  I.       Tantangan Internal Auditor Abad 21 (Challenge  of The 21st Century Internal Auditor). 

Beberapa tantangan yang harus dihadapi auditor internal pada abad 21 antara lain sbb :

1.      Orientasi berbasiskan risiko (Risk- based Orientation).

Auditor internal harus merubah pendekatan dari audit secara konvensional menuju audit berbasiskan risiko (risk based audit approach). Pola audit yang didasarkan atas pendekatan risiko yang dilakukan oleh auditor internal lebih difokuskan terhadap masalah parameter risk assesment yang diformulasikan pada risk based audit plan. Berdasarkan risk assesment tersebut dapat diketahui risk matrix, sehingga dapat membantu auditor internal untuk menyusun risk audit matrix.

Manfaat yang akan diperoleh auditor internal apabila menggunakan risk based audit approach, antara lain auditor internal akan lebih efisien & efektif dalam melakukan audit, sehingga dapat meningkatkan kinerja Departemen Audit internal. Auditor internal juga harus berubah dari paradigma lama menuju paradigma baru, yang ditandai dengan perubahan orientasi dan peran profesi internal auditor. Perbedaan pokok antara paradigma lama dengan paradigma baru sebagai berikut : 

 

 

URAIAN

PARADIGMA LAMA PARADIGMA BARU
Peran Watchdog Konsultan & Katalis
Pendekatan Detektif (mendeteksi masalah) Prefentif (mencegah masalah)
Sikap Seperti Polisi Sebagai mitra bisnis / customer
Ketaatan / kepatuhan Semua policy / kebijakan Hanya policy yang relevan
Fokus Kelemahan / penyimpangan Penyelesaian (solusi) yang konstruktif
Komunikasi dengan manajemen terbatas Reguler
Audit Financial / compliance audit Financial, compliance, operasional audit.
Jenjang karir Sempit (hanya auditor) Berkembang luas (dapat berkarir di bagian / fungsi lain)

 2.      Perspektif global (Global Perspective).

Auditor internal harus berpandangan luas dan dalam menilai sesuatu secara global bukan secara sempit (mikro). Pada era globalisasi saat ini, sudah tidak ada lagi batas-batas antar negara dalam menjalankan bisnis.  

3.      Governance Expertise.

Auditor internal harus melaksanakan prinsip tata kelola perusahaan yang baik yaitu Good Corporate Governance (GCG) serta tata pemerintahan yang baik yaitu Good Goverment Governance (GGG). Auditor internal harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang GCG & GGG. Auditor internal berperanan penting dalam implementasi GCG di perusahaan dan GGG di pemerintahan. Efektivitas sistem pengendalian internal dan auditor internal merupakan salah satu kriteria penilaian dalam implementasi GCG.Para auditor internal harus menggunakan kompetensi yang dimiliki dan agar bekerja secara profesional sehingga dapat bernilai tambah (added value) bagi organisasinya. Agar auditor internal bernilai tambah, maka hendaknya dapat melakukan asesmen atas : 

a.             Operational & quality efefctiveness.

b.             Business Risk

c.             Business & process control.

d.            Process & business efficiencies.

e.             Cost reduction opportunities.

f.              Waste elimination opportunities.

g.            Corporate governance efectiveness. 

4.      Technologically Adept.

Auditor internal harus senantiasa mengikuti perkembangan teknologi, terutama Teknologi Informasi. Auditor internal harus memiliki technology proficiency, misalnya ahli dibidang Audit Sistem Informasi (System Information Audit). Apabila diperlukan auditor internal dapat mengambil gelar sertifikasi Certified Information System Audit (CISA). Selain itu auditor internal harus dapat menggunakan kemampuan di bidang teknologi (technologicall  skills) untuk menganalisis / mitigasi risiko, perbaikan proses ( improve process) dan evaluasi efisiensi (upgrade efficiency). 

5.      Business Acumen.

Auditor internal harus memiliki jiwa entrepeneurship yang tinggi, sehingga mengikuti setiap perkembangan dalam proses bisnis (business process). Pada masa lalu auditor internal lebih mengedepankan perannya sebagai watchdog, saat ini auditor internal diharapkan lebih berperan sebagai mitra bisnis (business partner) bagi manajemen dan lebih berorientasi  untuk memberikan kepuasan kepada  jajaran manajemen sebagai pelanggan (customer satisfaction).  

6.      Berpikir kreatif & solusi masalah (Creative Thinking & Problem Solving).

Auditor internal harus selalu berpikir positif dan inovatif serta lebih berorientasi pada pemecahan masalah. Untuk menjadi problem solver auditor internal memerlukan pengalaman bertahun-tahun melakukan audit berbagai fungsi / unit kerja suatu organisasi / perusahaan.    

7.      Strong Ethical Compass.

Auditor internal harus selalu menjaga kode etik dan moralitas yang berlandaskan ajaran agama dalam menjalankan tugas, sehingga terhindar dari perilaku yang tidak terpuji. 

8.   Communication Skills.

Pekerjaan auditor internal berhubungan erat dengan unit organisasi lain, yaitu manajemen, komite audit, auditor eksternal (Kantor Akuntan Publik), oleh karena itu auditor internal harus menjalin komunikasi yang baik dengan pihak-pihak lain tersebut. Dalam hal ini, auditor internal perlu memiliki kemampuan dalam bidang komunikasi, baik lisan maupun tertulis. 

J.       Kesimpulan  

Untuk menjadi auditor internal yang profesional terdapat beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh para auditor internal, sbb :

  1. Auditor internal melaksanakan standar profesional serta kode etik profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi secara konsisten.
  2. Auditor internal harus senantiasa mengikuti perkembangan mutakhir  lingkungan bisnis yang sangat cepat serta teknologi informasi yang pesat.
  3. Auditor internal harus selalu mengikuti perkembangan terbaru tentang konsep & teknik dalam  internal auditing melalui Pendidikan profesi berkelanjutan (PPL).
  4. Auditor internal harus selalu meningkatkan kemampuan dibidang komunikasi (communication skills) baik lisan maupun tertulis.

DAFTAR PUSTAKA 

Brown, Brian G., “ The Global  Practice of Internal Auditing”, Intitute of Internal Auditor (IIA), 2006.

Chambers, Richard F., ”Improving Integrity and Fighting Corruption With Strong Internal Audit”, Intitute of Internal Auditor (IIA)  Learning Center, IIA, 2004.

Effendi, M. Arief, “Paradigma Baru Internal Auditor”, Auditor, Jakarta, Edisi No. 05 Tahun 2002.

Effendi, M. Arief, “Risk Based Internal Auditing” , Media Akuntansi, Jakarta, Edisi April 2003

Effendi, M. Arief, ”Value Added Internal Auditing”, Auditor, Jakarta, Edisi No. 08 Tahun 2003

Institute of Internal Auditors, Applying COSO’s Enterprise Risk Management — Integrated Framework, September 29, 2004.

Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal, “Standar Profesi Audit Internal”, Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA), Jakarta, cetakan pertama, 2004.

Lapelosa,   Michael,   “Modern   Integrated    Audit   Approach”,  Internal   Auditing Seminar, IIA, 2007.

Moeller, Robert , “Brink’s Modern Internal Auditing”, 6th Edition, John Wiley & Sons, 2005.

Sawyer, Lawrence B. et. all, Sawyer’s Internal  Auditing,    The   Practice of Modern Internal Auditing, 5th Edition, IIA, 2003.

www.auditor-internal.com

www.iia2007.com

www.internalauditing.or.id

www.ppak-stan.com

www.pleier.com/pubs.htm

www.theiia.org/certification/certified-internal-auditor

*) Muh. Arief Effendi, SE, MSi, Ak, QIA adalah Senior Auditor Operasional PT. Krakatau Steel, Dosen Luar Biasa pada beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta (FE Universitas Trisakti, STIE Trisakti, FE Universitas Mercu Buana & Program Magister Akuntansi Universitas Budi Luhur)

GCG melalui Corporate Culture

GCG MELALUI CORPORATE CULTURE

(Artikel ini telah dimuat di Harian BATAMPOS,

Edisi Selasa, 16 Januari 2007, Rubrik “Opini”)

 

Oleh: Muh Arief Effendi *)

 Akhir-akhir ini masalah budaya perusahaan (corporate culture) banyak mendapatkan sorotan. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya penurunan kinerja yang terjadi di berbagai perusahaan. Budaya perusahaan adalah kumpulan nilai-nilai (values)  dan unsur-unsur yang menentukan  identitas dan perilaku suatu organisasi perusahaan.  Budaya perusahaan merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam visi dan misi perusahaan. Budaya perusahaan bukan hanya sekedar “buku pintar” yang tersimpan dalam laci atau rak-rak buku saja, namun perlu diaplikasikan dalam operasi perusahaan sehari-hari (day to day operation). Sukses tidaknya suatu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya memang tidak terlepas dari budaya perusahaan yang dimilikinya.  Oleh karena itu, budaya perusahaan perlu diaktualisasikan  melalui penyusunan pedoman kebijakan (policy guidelines), sehingga diharapkan dapat memaksimalkan kontribusi seluruh anggota perusahaan didalam mewujudkan visi dan misi perusahaan.
Keberhasilan implementasi Good Corporate Governance (GCG) dalam pengelolaan perusahaan pada era globalisasi sangat tergantung adanya nilai-nilai budaya perusahaan yang dianut dan dipraktekkan dilingkungan perusahaan. Saat ini budaya perusahaan telah menjadi tema sentral dalam pengembangan perusahaan, terutama menyangkut Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu budaya perusahaan merupakan prinsip dasar (basic principle) dalam pengembangan perusahaan untuk meningkatkan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan daya saing perusahaan.

Djoko Santoso Moeljono (2005) dalam bukunya “Good Corporate Culture sebagai inti dari GCG” menyatakan bahwa sebelum perusahaan menerapkan GCG sebaiknya perusahaan menerapkan terlebih dahulu nilai-nilai yang terkandung dalam Corporate Culture yang dianutnya. Selain itu, mantan CEO Bank BRI tersebut, juga menyatakan bahwa GCG dapat berjalan apabila individu-individu dalam perusahaan secara internal mempunyai sistem nilai  (value system) yang mendorong mereka untuk menerima, mendukung dan melaksanakan GCG. Hal tersebut terbukti dengan keberhasilan beberapa perusahaan kelas dunia (world class company) maupun perusahaan multi nasional dalam menerapkan GCG setelah terlebih dahulu menjalankan dengan konsisten budaya perusahaan.

 
Perusahaan yang dapat berkembang pesat dalam jangka panjang (sustainable company), ternyata  semuanya memiliki budaya perusahaan yang kuat. Andrew E.B. Tani, konsultan SDM ternama, dalam majalah Warta Ekonomi  edisi 11 (9 Juni 2006), menyatakan bahwa  budaya perusahaan adalah sumber kekuatan perusahaan. Perusahaan yang memiliki budaya perusahaan yang kuat akan mampu bertahan  melewati sejumlah tantangan yang muncul dalam berbagai masa, misalnya Procter & Gambler (P&G), IBM, Nokia dan General Electric (GE). Berikut ini beberapa falsafah yang dimiliki perusahaan kelas dunia yang dapat dijadikan contoh (benchmark), yaitu P&G terkenal dengan  falsafah “Business integrity, fair treatment for employees”, IBM dengan “IBM means services” , Nokia lewat “connecting peoples”dan GE dengan falsafahnya “Progress is our most important product”.
 

PT. Astra International Tbk, jauh hari sebelum menerapkan GCG di perusahaan, ternyata telah memiliki nilai budaya yang disebut Catur Dharma. Teddy P. Rahmat saat menjadi CEO di Astra International pada awal tahun 1980-an, pernah mengatakan bahwa esensi budaya perusahaan adalah kepemimpinan. Beliau termasuk orang pertama yang menganggap perlu adanya budaya dan tata nilai, sekaligus yang ikut menjalankan dan mendorongnya. Hal ini merupakan satu cara untuk menciptakan budaya perusahaan yang sesuai sehingga dapat mendorong pengambilan keputusan serta  mengendalikan tingkah laku dalam berbisnis.
 

 Beberapa BUMN besar seperti PT Timah, PT Krakatau Steel dan PT PLN juga telah memiliki budaya perusahaan. Misalnya, PT Timah  memiliki 3 (tiga) dasar pedoman yaitu Solidaritas, Keterbukaan dan Integritas. PT Timah yang awalnya hampir kolaps, dengan menjalankan budaya perusahaan secara konsisten,  akhirnya bisa bangkit kembali menjadi perusahaan pertambangan kelas dunia (word class company)
 

Berbagai perusahaan telah menjalankan nilai-nilai budaya perusahaan yang telah dianutnya dalam aktivitas bisnis sehari-hari, seperti kerja keras, disiplin, integritas, pembelajar dll. Nilai kerja keras merupakan suatu usaha bersungguh-sungguh tanpa melakukan penundaan waktu, artinya pekerjaan yang bisa diselesaikan pada hari ini,   akan diselesaikan pada hari ini juga. Selain itu pekerjaan dilakukan dengan berkonsentrasi penuh,  sehingga bisa terhindar dari pemborosan (inefisiensi),  baik waktu,  tenaga,  maupun biaya. Kerja keras memerlukan rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak cepat putus asa dan selalu memiliki semangat pantang menyerah. Nilai disiplin   tidak hanya ditunjukkan datang tepat waktu atau tidak terlambat, namun juga menepati acara-acara rapat. Disiplin juga memiliki arti menepati janji yang telah disanggupi,  menepati kesepakatan bersama,  serta dapat dijadikan teladan yang baik. Nilai integritas ini ditunjukkan dari sikap yang secara konsisten menunjukkan kejujuran, kesesuaian antara perkataan dan tindakan serta penuh rasa tanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan.  Nilai pembelajar ditunjukkan dari sikap untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bersedia menjalani pendidikan profesi berkelanjutan (PPL) sesuai bidang masing-masing. Seorang yang termasuk pembelajar biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, bersedia berbagi  pengetahuan (knowledge) dan  pengalamannya  serta menghargai pemikiran ( ide) baru dan hasil karya yang inovatif.
 

Hubungan antara GCG dan budaya perusahaan ternyata berbanding lurus. Implementasi GCG di perusahaan dapat berhasil dengan lancar dan sukses  apabila didukung dengan internalisasi budaya perusahaan yang baik. Tanpa budaya perusahaan yang kuat dan dijalankan  secara konsisten, maka implementasi GCG akan mengalami kesulitan bahkan bisa mengalami kegagalan. Semoga budaya perusahaan dapat benar-benar dipahami dan diaplikasikan oleh karyawan dan pimpinan perusahaan dalam kegiatan bisnis sehari-hari sehingga upaya untuk mewujudkan GCG bukan sekedar slogan namun  menjadi kenyataan.***

*) Muh Arief Effendi SE MSi Ak QIA, bekerja sebagai internal auditor sebuah BUMN serta Dosen Luar Biasa di FE Universitas Trisakti, STIE Trisakti & FE Universitas Mercu Buana Jakarta.

 

Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dan Sosialisasi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi Siswa SMPIT-RJ

Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dan Sosialisasi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi Siswa SMPIT-RJ

Membangun Tradisi Kepenulisan di Kalangan Dosen Perguruan Tinggi

Membangun Tradisi kepenulisan di kalangan Dosen Perguruan Tinggi-UIB Batam-11-12-2006
MEMBANGUN  TRADISI  KEPENULISAN  DI  KALANGAN DOSEN PERGURUAN TINGGI

 (Bahan Diskusi dalam Workshop “Teknik Penulisan Artikel di Media Massa & Jurnal /How to Develop Academic Writing Skill” bagi Para Dosen di Universitas Internasional Batam (UIB) yang diselenggarakan oleh Academic Development Center UIB Batam pada  tanggal 11 Desember 2006) 

Oleh : 

Muh. Arief Effendi,SE,MSI,AK,QIA*

A.  Pendahuluan

Dosen termasuk salah satu civitas akademika di perguruan tinggi yang memiliki wawasan intelektual tinggi diharapkan dapat menyampaikan ide / pemikiran / gagasannya secara sistematis, baik secara lisan maupun tulisan. Kelemahan umum yang terjadi pada sebagian dosen di perguruan tinggi adalah karena kesibukan mengajar di kampus, sehingga melupakan salah satu kewajiban yang tidak kalah penting dari mengajar yaitu menulis karya ilmiah. Bahkan banyak dosen yang kenaikan jenjang kepangkatan akademiknya terhambat  /terlambat,  hanya karena kesulitan dalam membuat karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah memang bagi sebagian dosen masih menjadi momok yang sulit diatasi. Menurut pengamatan penulis, tradisi kepenulisan di kalangan dosen di perguruan tinggi belum membudaya. Hal ini ditunjukkan masih sedikitnya hasil karya ilmiah dosen yang dipublikasikan di media massa maupun jurnal ilmiah. 

B.  Teknik Penulisan Artikel Ilmiah Populer 

Artikel / karya tulis  ilmiah populer atau  sering disebut opini / pendapat  / gagasan pribadi seseorang  yang sifatnya ilmiah dan disajikan secara populer di media massa. Gagasan yang disampaikan dapat meliputi berbagai aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial-budaya, hukum dan hankam dan lain-lain. Teknik penyajian karangan jenis ini mengacu pada metode penulisan yang mudah dimengerti oleh publik, lugas , kritis dan tidak perlu disertai dengan rumus-rumus / angka-angka statistik yang rumit.

1.   Teknik Penulisan Artikel

Teknik penulisan artikel ilmiah populer yang berlaku di media massa (koran, majalah, buletin dan lain-lain) secara umum terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :

a.   menggali ide

Kita harus bisa menuangkan ide-ide / pemikiran kita kedalam tulisan yang hasil akhir berupa artikel. Dalam menggali ide, kita harus mengunakan alur pemikiran yang runtut dan sistematis. Isi artikel dapat berupa pandangan kita  dalam  memberikan alternatif solusi terhadap suatu masalah (problem solving).

b.   Membuat kerangka tulisan secara detail

Kerangka tulisan secara sederhana biasanya dimulai  dari pendahuluan, pembahasan masalah, kesimpulan. Lebih bagus apabila dilengkapi dengan solusi permasalahan berupa saran / rekomendasi terhadap pihak-pihak terkait.                                    

c.   Mengumpulkan data, fakta, referensi dan bahan bacaan

Berbagai referensi yang relevan sangat penting dalam rangkamendukung opini kita. Tanpa dukungan dari data-data/ fakta /  bahan bacaan maka tulisan kita terlihat  kering dan kurang dapat memberikan makna kepada para pembaca.

d.   Menulis dengan ekspresi bebas

Hal yang paling sulit bagi kita adalah pada saat kita mulai untuk menuliskan semua yang sudah kita dapatkan. Ketrampilan menulis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kegiatan menulis perlu dilakukan secara terus menerus dan jangan pernah mengulur waktu. Apabila kita  menunda-nunda dalam menyelesaiakn suatu tulisan, maka akan timbul rasa bosan untuk memulai lagi. Tulis apa saja yang terbersit dalam pikiran.

e.   Editing

Setelah opini / gagasan sudah selesai  ditulis, maka kita perlu membaca ulang sekaligus mengedit apa yang sudah kita tulis. Hal ini dimaksudkan  untuk meyakinkan bahwa tulisan yang kita buat telah tersusun dengan rapi. Selain itu, apabila terjadi kesalahan yang terjadi,  baik  kesalahan pada data, kata atau kalimat serta pembahasan / analisis yang kurang tajam dapat kita perbaiki. Apabila menurut kita artikel / karya tulis ilmiah populer tersebut telah siap, maka kita dapat memilih media massa yang tepat. Pemilihan media massa perlu mempertimbangkan karakteristik tertentu, seperti visi dan misi yang diemban serta pangsa pasar yang dituju media tersebut.

Berikut ini diberikan beberapa contoh media massa yang terbit serta materi / tulisan yang bisa dimuat : 

 

No.

Nama Media Massa(Penerbit) Materi / tulisan yang bisa dimuat
1 Buletin Internal Audit(Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern) Bidang : Audit, manajemen, keuangan, akuntansi, perpajakan.
2 Media Akuntansi(Ikatan Akuntan Indonesia kerjasama dengan PT. Ray Indonesia) Bidang : akuntansi, audit, keuangan, majemen, perpajakan, teknologi dan tulisan yang terkait dengan profesi akuntan.
3 Auditor(PT. Auditor Media Citra Pariwara) Bidang : Audit, akuntansi, manajemen, Good Corporate Governance dan tulisan lain terkait profesi auditor.
4 Koran / Surat Kabar(Berbagai Penerbit baik lokal maupun nasional) Bidang : isu-isu aktual  terkini (current issue) bidang politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, hankam dan lain-lain.

 

2.   Standar penulisan artikel

       Artikel yang kita susun, agar memenuhi standar minimal sebuah artikel yang bisa dimuat di media massa, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

a. Aktual.

Aktualitas suatu tulisan merupakan prioritas utama. Prioritas bisa dikaitkan dengan momentum aktual / isu-isu terkini (current issue) yang tengah terjadi dan berkembang di masyarakat. Misalnya, saat ini lagi mencuat isu seputar Good Corporate Governance (GCG) dan pemberantasan Korupsi, Kolusi & nepotisme (KKN), maka tulisan seputar masalah tersebut, baik di koran, buletin atau majalah gampang dimuat. Oleh karena itu, agar dihindarkan menulis sesuatu yang sudah “basi” atau kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat / publik, karena kemungkinan besar tulisan yang kita kirimkan ke media tersebut tidak akan dimuat .

b. Bahasa yang lugas.

Dalam menulis, agar dihindarkan penggunaan bahasa yang bertele-tele, karena akan membuat penyampaian gagasan menjadi kurang mengena. Pilihan kata-kata dan kalimat perlu diperhatikan dengan seksama. Jangan sekali-sekali kita menulis kata-kata yang bisa bermakna ganda, karena akan membuat bingung para pembaca. Pemakaian bahasa yang tidak tepat, bisa berakibat  ide / pemikiran kita gagal ditransformasikan kepada para pembaca.

c. Tulisan mengandung hal yang baru & inovatif.

Kebaruan tulisan dapat dilihat dari sudut pandang tertentu yang belum pernah ditulis pihak lain maupun berupa pengembangan suatu metode / teori / konsep. Kita harus mengupayakan agar data yang kita gunakan akurat dan up to date.  Oleh karena itu,  kita perlu memperhatikan isu-isu aktual (current issue) yang sedang terjadi di masyarakat.

d. Ide / pemikiran  orisinil

Kita perlu berusaha agar ide / opini / hasil pemikiran kita merupakan hasil karya yang orisinil / asli. Hal ini untuk  menghindari tuduhan penjiplakan (plagiator).

e. Tulisan jangan terlalu teoritis.

Kita harus ingat, bahwa artikel yang kita tulis akan dibaca pihak lain yang latar belakang pendidikannya variatif bahkan ada yang tidak mengalami bangku sekolah. Menulis suatu artikel yang terlampau teknis dengan rumus-rumus yang rumit , sudah dipastikan tidak akan dimuat di media massa (misalnya koran, majalah) yang segmen pembacanya  sangat luas. Tulisan yang memaparkan implementasi / penerapan suatu konsep di suatu perusahaan atau organisasi sangat dihargai dan lebih mudah untuk diloloskan pihak redaksi media yang bersangkutan untuk dimuat alias layak untuk dipublikasikan.

f. Tulisan tidak terlalu panjang

Beberapa koran, buletin atau majalah membatasi panjang tulisan, pada umumnya sekitar 2-5  lima halaman saja, kecuali tulisan / artikel ilmiah untuk majalah profesi tertentu, bisa lebih dari 5 halaman.Kegiatan menulis memang diawali dari kegiatan membaca. Menulis adalah bagian dari unsur-unsur belajar. Proses belajar tidak hanya dilihat dari banyaknya topik yang didiskusikan atau banyaknya buku yang dibaca saja. Namun, bagaimana kita mampu menuangkan  ide / pemikiran dalam bentuk tulisan. Menulis ternyata memerlukan ketrampilan khusus serta latihan secara terus menerus. Untuk menulis sebuah opini di koran kita harus mempunyai sejumlah kemampuan antara lain bisa merumuskan masalah dengan baik, perbendaharaan bahasa, wawasan (pengetahuan umum) yang luas, serta mampu merekomendasikan alternatif solusi. Penulis berharap agar para dosen di perguruan tinggi dengan kemampuan intelektual yang dimiliki dapat menuangkan ide / gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat (publik), sehingga kampus perguruan tinggi terhindar dari sinyalemen bahwa “kampus sebagai menara gading”. Oleh karena itu saat ini para dosen perlu banyak-banyak membaca buku serta rajin mengikuti diskusi / seminar / lokakarya sehingga ilmu pengetahuan serta wawasan kita bertambah luas. Hal yang tak kalah penting adalah kita perlu sering berkomunikasi  dengan seorang yang berpengalaman, sehingga kita mendapatkan sharing informasi untuk menjadi penulis artikel yang produktif. Apabila kita telah mendapatkan informasi  dari berbagai sumber, maka proses penciptaan tulisan / artikel ilmiah menjadi lebih  ringan.

3.   Kiat-kiat menulis artikel

Beberapa kiat atau tips berikut ini, merupakan kutipan dari beberapa pengarang buku panduan penulisan artikel ilmiah populer, antara lain :

  1. Menulis bukan masalah teori, tetapi lebih masalah praktik. Bagi calon penulis atau penulis pemula untuk berani memulai: mulai menulis. Tidak ada cara lain yang lebih ces pleng, selain itu .(Tartono, 2005).
  2. Menulis memerlukan motivasi tersendiri. Tanpa motivasi yang kuat memang tidak akan mampu menulis, apalagi menjadi penulis profesional. (Lasa Hs, 2005).
  3. Dengan berpayungkan semangat motto Latin, nulla dies sine linea (tiada hari tanpa menulis), dalam kehidupan mondial, keberanian menulis artikel (jurnalistik) sudah menjadi tantangan tersendiri. Menulis artikel, boleh jadi merupakan upaya katarsis bagi penulisnya. Sementara, bagi pembaca, bisa jadi mendatangkan pencerahan.  (Wibowo, 2006).
  4. Pada umumnya, ketika seseorang ingin menulis, ia hanya melihat dua hal. Kemampuannya dan lahan penulisannya. Hampir tak ada yang ingat untuk memandang “ke dalam” dirinya sendiri. Ketika timbul masalah, ia mengalami kesulitan  karena tidak mengerti penyebab yang sebenarnya. Akibatnya aktivitas menulisnya menjadi macet. (Rudatan,2006).

Apabila kiat-kiat atau tips tersebut diatas dapat kita cermati dan pahami dengan sungguh-sungguh, maka diharapkan kita memiliki semangat yang tinggi untuk menulis, menulis dan menulis. Oleh karena itu marilah kita mulai menulis dari sekarang, dari media massa lokal (setempat) serta dari pengetahuan yang kita miliki. 

D.  TeknikPenulisan Artikel / Karya Ilmiah di Jurnal

 Berikut ini disajikan kebijakan editorial maupun pedoman umum penulisan yang berlaku pada beberapa jurnal ilmiah, baik yang terbit di kampus  perguruan tinggi maupun di lembaga penelitian milik instansi Pemerintah. 

1.   Kebijakan Editorial Jurnal 

a.      Artikel / naskah yang dapat dimuat dalam jurnal meliputi tulisan tentang kebijakan, hasil penelitian baik yang bersifat empirik maupun studi dokumenter, analisis data sekunder, pemikiran, review teori/konseptual/metodologi, resensi buku baru (book review), dan informasi lain yang berkaitan dengan visi & misi Jurnal yang bersangkutan, misalnya : 

 

No.

Nama Jurnal & Penerbit Materi / tulisan yang bisa dimuat
1 Jurnal Keuangan Publik(Lembaga Pengkajian Keuangan Publik dan Akuntansi Pemerintah BPPK Departemen Keuangan  RI) Bidang : Keuangan publik, manajemen sektor publik, akuntansi sektor publik dan otonomi daerah.
2 Jurnal Akuntansi Pemerintah(Lembaga Pengkajian Keuangan Publik dan Akuntansi Pemerintah BPPK Departemen Keuangan  RI) Bidang : Akuntansi Pemerintah dan turunannya.
3 Jurnal Keuangan dan Perbankan(STIE LPPI / Indonesia Banking School Jakarta) Bidang :  ekonomi, keuangan, akuntansi, manajemen, industri perbankan.
4 Jurnal Riset Akuntansi Indonesia (IAI-Kompartemen Akuntan Pendidik) Bidang : akuntansi keuangan, pasar modal, akuntansi manajemen, akuntansi sector publik, auditing, sistem informasi dan perpajakan.
5 Jurnal Bisnis dan Akuntansi(STIE Trisakti Jakarta) Bidang : bisnis dan akuntansi.
6 Media Riset Akuntansi, Auditing & Informasi(Lembaga Penerbit FE Universitas Trisakti Jakarta) Bidang : Akuntansi, Auditing dan Sistem Informasi.

 b.      Penulis harus menyatakan bahwa artikel / naskah yang dikirimkan belum pernah dimuat / dipublikasikan di media lain.

c.       Untuk artikel / naskah hasil riset dengan pendekatan survey atau eksperimental, penulis harus :

1).  Melampirkan instrumen riset (kuesioner, kasus, daftar wawancara dan lain lain).

2).  Memberikan data riset dan memberikan informasi cara memperoleh data tersebut kepada yang memerlukannya demi pengembangan praktik, pendidikan dan riset.

d.     Setiap artikel / naskah yang diterima akan melalui proses blind review oleh dewan editor Jurnal.Kriteria-kriteria yang dipertimbangkan dalam review antara lain :

1).  Memenuhi standar / persyaratan baku  publikasi jurnal.

2)      Metodologi riset yang digunakan.

3)      Manfaat hasil riset terhadap pengembangan ilmu maupun praktik.

e.   Dewan editor bertanggungjawab untuk memberikan telaah konstruktif dan jika diperlukan, menyampaikan hasil evaluasi kepada penulis artikel / naskah. 

2.   Pedoman umum  / Teknik  penulisan di Jurnal

a.      Tulisan diketik dengan spasi ganda  pada kertas kuarto , jumlah 10-30 halaman dilengkapi abstrak (dalam bahasa Inggris / bahasa Indonesia) sebanyak 100-150 kata dan kata kunci (key words) sebanyak 5 pengertian (deskriptor) untuk memudahkan penyusunan indeks.

b.      Naskah dikirim ke alamat redaksi dalam bentuk ketikan dan disertai disketnya atau melalui E-mail.  Berkas naskah dalam disket diketik font 12 karakter dengan menggunakan pengolah kata Microsoft Word, WordStar, WordPerfect.

c.      Artikel hasil penelitian memuat  :  judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, dan isi.  Sistematika/struktur berikut ini hanya sebagai pedoman umum : 

1)     Pendahuluan meliputi latar belakang (motivasi), perumusan masalah, dan tujuan penelitian . dan (jika dipandang perlu)  organisasi penulisan artikel.

2)      Kerangka teoritis dan pengembangan hipotesis (jika ada), memaparkan telaah / Kajian Literatur mencakup kajian teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan  untuk mengembangkan hipotesis atau proposisi riset dan model riset (jika dipandang perlu).

3)     Metodologi riset yang berisi rancangan/model, pengukuran dan definisi operasional variable, sampel dan data, tempat dan waktu, teknik pengumpulan data, dan teknik / metode analisis data.

4)     Pembahasan dan Simpulan

5)     Implikasi dan keterbatasan, menjelaskan implikasi temuan dan keterbatasan riset, serta jika perlu saran yang dikemukanakan peneliti / penulis untuk riset yang akan dating.

6)     Daftar Pustaka / Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja).

7)     Lampiran, memuat tabel, gambar dan instrumen riset yang digunakan.

d.     Artikel non penelitian , konseptual, pemikiran dan review teori memuat : judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, dan isi.  

1)     Pendahuluan meliputi latar belakang, perumusan masalah dan tujuan  penulisan.

2)     Subjudul-Subjudul sesuai kebutuhan, misalnya kajian literatur dan pembahasan serta pengembangan teori/konsep.

3)     Simpulan dan saran.

4)     Daftar Pustaka / Rujukan (berisi pustaka yang dirujuk dalam uraian saja).

e.      Artikel resensi buku selain menginformasikan bagian-bagian penting dari buku yang diresensi juga menunjukkan bahasan secara mendalam kelebihan dan kelemahan buku tersebut serta membandingkan teori/konsep yang ada dalam buku tersebut dengan teori/konsep dari sumber-sumber lain.

f.       Khusus naskah hasil penelitian yang disponsori oleh pihak tertentu harus ada pernyataan (acknowledgement) yang berisi informasi sponsor yang mendanai dan ucapan terima kasih kepada sponsor tersebut.

g.      Penulisan Daftar Pustaka / Rujukan / Referensi disajikan mengikuti tata cara / kaedah umum yang berlaku.

h.     Tata cara penyajian kutipan, tabel, dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Artikel Jurnal

i.        Naskah diketik dengan memperhatikan aturan tentang penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan .

j.        Pengiriman naskah disertai dengan alamat, nomor telepon, fax atau E-mail (bila ada). Pemuatan atau penolakan naskah akan diberitahukan secara tertulis.  Naskah yang tidak dimuat biasanya tidak akan dikembalikan, kecuali atas permintaan penulis.  Kepada penulis yang artikelnya dimuat di Jurnal akan diberikan 2 – 3  eksemplar jurnal sebagai tanda bukti pemuatan. 

E.             Program Insentif Penerbitan Artikel Ilmiah pada Jurnal Internasional. 

Program yang diluncurkan oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat  (P2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Depdiknas  ini bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan gairahan para peneliti Indonesia yang telah  menghasilkan penelitian yang bermutu untuk mempublikasikan hasil penelitiannya dalam jurnal ilmiah yang bertaraf internasional. Insentif penerbitan artikel ilmiah diberikan maksimum sebesar Rp 5 juta dipotong pajak sesuai ketentuan yang berlaku, ditambah biaya publikasi (bila ada, yang ditunjukkan dengan bukti tagihan dan pembayaran). Besarnya biaya publikasi yang diberikan tergantung kepada penilaian kelayakan dan ketersediaan dana (DIPA).

1.     Persyaratan

 a.      Insentif diberikan kepada peneliti perguruan tinggi yang artikelnya telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah bertaraf internasional (bukan proseding) dalam 3 tahun terakhir.  Artikel yang sedang diproses untuk diterbitkan, tidak dapat disertakan untuk di evaluasi.

b.      Artikel ilmiah ditulis dalam salah satu bahasa resmi dalam forum PBB: Inggris, Perancis, Spanyol, Cina dan Arab.

c.       Artikel ilmiah termaksud merupakan hasil penelitian yang dibiayai oleh pemerintah Indonesia, dan bukan bagian tesis atau disertasi yang diajukan di perguruan tinggi luar negeri.

d.     Pengusul yang diperbolehkan mengikuti program ini adalah peneliti atau penulis  dari perguruan tinggi di lingkungan Depdiknas.

e.      Pengusul adalah penulis pertama. Jumlah penulis dalam artikel ilmiah tersebut maksimal 5 orang, sedangkan bantuan insentif penerbitan hanya diberikan kepada penulis pertama.

f.        Nama institusi penulis pertama harus dicantumkan dalam terbitan termaksud.

g.      Pengusul diperbolehkan mengusulkan lebih dari 1 (satu) artikel tetapi hanya diperbolehkan menerima 1 (satu) hibah. Usulan lebih dari 1 (satu) supaya dijilid terpisah.

h.      Pengusul hanya diperbolehkan menerima 1 (satu) kali insentif, akan tetapi dapat mengusulkan biaya bantuan publikasi untuk penerbitan berikutnya (satu judul per tahun).

i.        Pengusul harus mengisi format Usulan Insentif Penerbitan Artikel Ilmiah. 

2.   Kriteria Penilaian

a.      Peringkat/kualitas jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel harus baik yang ditandai oleh citation index yang tinggi.

b.      Substansi artikel harus mencerminkan adanya kontribusi terhadap pengembangan iptek, termasuk aspek originalitas serta inovasi.

c.       Artikel ilmiah yang diusulkan harus selaras dengan bidang ilmu yang ditekuni pengusul. 

3.   Jadwal  & Pengambilan Keputusan

Usulan insentif penerbitan artikel ilmiah supaya disampaikan selambat-lambatnya tanggal 30 September setiap tahunnya, yang akan dievaluasi pada bulan berikutnya. Dana insentif akan diberikan selambat-lambatnya pada bulan November. Usulan yang masuk akan dinilai secara kompetitif oleh para pakar yang ditunjuk oleh Direktur P2M, Ditjen Dikti. Hasil evaluasi akan disampaikan kepada Dirjen Dikti untuk diputuskan.Berkas usulan (seperti pada contoh format), diajukan 3 rangkap (1 asli dan 2 fotokopi), yang masing-masing dikemas dalam sampul biru tua, dilengkapi lampiran contoh artikel asli, fotokopi sampul judul, halaman identitas dan daftar dewan redaksi serta gambaran umum jurnal, daftar isi yang memuat artikel terkait, dan petunjuk penulisan, dikirim atau diantar langsung.

F.   Sharing pengalaman     

Pada saat kuliah tingkat  awal  pada perguruan tinggi negeri (UGM) di Yogya, penulis berkesempatan ikut kegiatan pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh majalah / pers kampus saat itu (Balairung) yang dikelola oleh mahasiswa. Materi pelatihan jurnalistik tersebut diberikan oleh praktisi pers seperti wartawan majalah Tempo dan pengelola pers kampus. Hasil pengalaman mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik tersebut, maka beberapa artikel penulis dapat dimuat di media massa, msekipun masih koran lokal di Yogyakarta, serta satu artikel dimuat di majalah profesi (Media Akuntansi) di Jakarta. Alhamdulillah saat ini, tulisan / artikel  penulis sudah tersebar di berbagai media massa baik lokal maupun nasional, seperti koran / surat kabar , buletin, majalah serta jurnal ilmiah . Apabila kita memiliki kemauan dan rajin menulis, maka hampir  setiap bulan kita dapat berhasil membuat satu tulisan / artikel yang dapat dikirimkan ke media massa atau jurnal ilmiah. Tulisan yang dimuat di media massa, kadang-kadang mendapatkan respon / tanggapan dari penulis lain. Selain itu, tulisan yang dimuat di media massa atau jurnal ilmiah, biasanya akan mendapatkan honor yang besarnya disesuaikan dengan kondisi penerbit media  tersebut, sehingga dapat menghasilkan pendapatan tambahan (other income). Semoga pengalaman pribadi penulis ini dapat menggugah rekan-rekan dosen untuk rajin menulis suatu artikel / karya tulis ilmiah, sekaligus merupakan sumbangsih pemikiran / gagasan kita dalam pengabdian pada masyarakat. 

G.   Upaya Menumbuhkan Minat menulis

Upaya untuk menumbuhkan minat tulis menulis di kalangan dosen perguruan tinggi dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain :

1.      Pimpinan perguruan tinggi dapat memberikan semacam penghargaan (insentif) kepada para dosen yang berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah yang diterbitkan di lembaga penerbit kampus-kampus, asosiasi profesi maupun lembaga penelitian instansi Pemerintah. Penghargaan dapat berupa nilai rupiah tertentu atau sertifikat.

2.      Dosen diwajibkan untuk membuat makalah (karya tulis) dikaitkan dengan kenaikan jenjang kepangkatan akademik.

3.      Pimpinan perguruan tinggi memberikan dorongan kepada para dosen untuk mengikutsertakan karya tulis (makalah) dalam acara workshop / lokakarya/ forum ilmiah, Simposium dan lain-lain.

4.      Jika diperlukan dapat diadakan suatu pendidikan jurnalistik  / pelatihan teknik menulis karya ilmiah di kalangan dosen dengan menghadirkan para pakar / ahli dibidang jurnalistik / tulis menulis.  Pakar bisa diambilkan dari wartawan Media Massa (Koran, Majalah) atau praktisi / pengelola Jurnal Kampus dari kampus perguruan tinggi. 

H.  Kesimpulan dan Saran     

1.   Pada saat ini tradisi kepenulisan di kalangan dosen perguruan tinggi belum membudaya. Oleh karena itu, untuk membangun budaya menulis bagi para dosen, sangat diperlukan komitmen penuh dan dorongan dari pimpinan perguruan tinggi.

2.      Dosen yang dapat menuangkan gagasan / pemikiran dalam bentuk tulisan artikel / karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat (publik) merupakan  salah satu penerapan tridharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian pada masyarakat. Oleh karena itu, agar para dosen berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam penulisan artikel / karya ilmiah, sehingga eksistensinya bukan hanya diakui dikalangan kampus saja namun juga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. 

REFERENSI 

Djuharie, O. Setiawan & Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, Yrama Widya, Bandung, 2002. 

Lasa HS , Gairah Menulis, Alinea, Yogyakarta, 2005. 

Rudatan, Rs., Menjadi Kaya dengan Menulis, Andi, Yogyakarta, 2006. 

Tartono, St. S, Menulis di Media Massa Gampang! Tips untuk Menulis di Media Massa Cetak, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta, 2005. 

Wibowo, Wahyu, Berani Menulis Artikel – Babak Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006. 

www.auditormedia.co.id 

www.diknas.go.id 

*) Muh. Arief Effendi,SE,MSi, Ak, QIA adalah Senior Auditor PT. Krakatau Steel dan Dosen Luar Biasa FE Universitas Trisakti & STIE Trisakti Jakarta. 

Membudayakan Tradisi Menulis di Kalangan Dosen

MEMBUDAYAKAN  TRADISI   MENULIS  DI  KALANGAN  DOSEN

(Artikel ini telah dimuat di Majalah MATABACA, Vol. 5 / No. 6/ Februari 2007, Rubrik “Opini”, Hlm. 48 , ISSN : 1412-7571)

Dosen termasuk dalam civitas akademika di perguruan tinggi yang memiliki wawasan intelektual luas diharapkan dapat menyampaikan ide atau pemikiran secara lisan dan tulisan.

Kelemahan umum yang terjadi pada sebagian dosen kita adalah karena kesibukan mengajar di kampus, sehingga melupakan salah satu kewajiban yang tidak kalah penting dari mengajar yaitu menulis karya ilmiah. Bahkan banyak dosen yang jenjang kepangkatan akademiknya terhambat (terlambat naik),  hanya karena kesulitan membuat karya tulis ilmiah.  

Menurut pengamatan penulis, tradisi kepenulisan di kalangan dosen belum membudaya. Hal ini ditunjukkan masih sedikitnya tulisan dosen yang dipublikasikan di media massa.  

Kegiatan menulis memang diawali dari kegiatan membaca. Menulis adalah bagian dari unsur-unsur belajar. Proses belajar tidak hanya dilihat dari banyaknya topik yang didiskusikan atau banyaknya buku yang dibaca. Namun, bagaimana kita mampu menuangkan  ide dalam bentuk tulisan. Menulis ternyata memerlukan ketrampilan khusus serta latihan secara terus menerus. Untuk menulis sebuah opini di koran kita harus mempunyai sejumlah kemampuan, antara lain bisa merumuskan masalah dengan baik, perbendaharaan bahasa, wawasan (pengetahuan umum) yang luas, serta mampu merekomendasikan alternatif solusi.  

Penulis berharap agar para dosen di perguruan tinggi dengan kemampuan intelektual yang dimiliki dapat menuangkan ide atau gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat (publik), sehingga kampus perguruan tinggi terhindar dari sinyalemen bahwa “kampus sebagai menara gading”. Oleh karena itu saat ini kita perlu banyak-banyak membaca buku serta rajin mengikuti diskusi, seminar dan lokakarya sehingga ilmu pengetahuan serta wawasan kita bertambah luas.  

Hal yang tak kalah penting adalah kita perlu sering berkomunikasi  dengan seorang yang berpengalaman, sehingga kita mendapatkan sharing informasi untuk menjadi penulis artikel yang produktif.  

Menulis perlu motivasi yang tinggi serta semangat pantang menyerah. Apabila tulisan kita dimuat di media massa, maka kita memiliki kebanggaan tersendiri, apalagi jika saran atau rekomendasi kita dalam tulisan tersebut direspon oleh publik. 

Karya Ilmiah

Dosen dapat membuat tulisan berupa artikel / opini atau karya ilmiah untuk jurnal ilmiah. Artikel atau karya tulis  ilmiah populer yang sering disebut opini merupakan pendapat  atau gagasan pribadi seseorang  yang sifatnya ilmiah dan disajikan secara populer di media massa. Gagasan yang disampaikan dapat meliputi berbagai aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial-budaya, hukum dan hankam. Teknik penyajian karangan jenis ini mengacu pada metode penulisan yang gampang dimengerti oleh publik, lugas , kritis dan tidak perlu disertai dengan tabel / angka-angka statistik yang rumit.  

Upaya untuk menumbuhkan minat tulis menulis di kalangan dosen, dapat dilakukan melalui berbagai cara.

1.      Pihak berwenang di  kampus perguruan tinggi dapat memberikan semacam penghargaan (insentif) kepada para dosen yang berhasil memublikasikan karya ilmiahnya.

2.      Dosen diwajibkan untuk membuat makalah (karya tulis) dikaitkan dengan peningkatan jenjang kepangkatan akademik dosen.

3.      Pimpinan perguruan tinggi memberikan dorongan kepada para dosen untuk mengikutsertakan karya tulis (makalah) dalam workshop / lokakarya, forum ilmiah dan simposium.

4.      Apabila diperlukan dapat diadakan suatu pendidikan jurnalistik  / pelatihan teknik menulis karya ilmiah di kalangan dosen. 

 * Muh.Arief Effendi, SE, MSi, Ak,QIA, Pemerhati pendidikan, Dosen Luar Biasa di FE  Universitas Trisakti, STIE Trisakti dan FE Universitas Mercu Buana Jakarta.

CATATAN 

Artikel (tulisan) ini merupakan ikhtisar (summary) dari makalah (paper) penulis yang berjudul “Membangun Tradisi Kepenulisan di Kalangan Dosen Perguruan Tinggi” dan telah dipresentasikan  dalam Acara “Lokakarya Teknik Penulisan Artikel di Media Massa & Jurnal / Workshop on How to Develop Academic Writing Skill” bagi Para Dosen di Universitas Internasional Batam (UIB) yang diselenggarakan oleh Academic Development Center UIB Batam pada  tanggal 11 Desember 2006.

%d bloggers like this: