Sekilas info tentang Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah (USAS) Tahun 2018

Sekilas info tentang Ujian Sertifikasi AKUNTANSI SYARIAH (USAS) tahun 2018

Advertisements

Sekilas info tentang Ujian Sertifikasi Ahli Akuntansi Pemerintahan (US-AAP) tahun 2018

Sekilas Info tentang Ujian Sertifikasi Ahli Akuntansi Pemerintahan (US-AAP) tahun 2018

Sekilas info tentang Ujian Sertifikasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (US-PSAK) Tahun 2018

Sekilas Info tentang Ujian Sertifikasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (US-PSAK) tahun 2018

Sekilas info tentang Sertifikasi CFE (Certified Fraud Examiner) , CFE Exam Preparation Course & CFE Exam 2018

Sekilas Info tentang Ujian Sertifikasi CFE – CFE Exam Preparation Course & CFE Exam tahun 2018

Sekilas Info tentang Certified Risk Management Professional (CRMP)

Sekilas Info tentang ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA) dan Cara Pendaftaran ASEAN CPA bagi Anggota IAI

Sekilas Info tentang ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA) dan Cara Pendaftaran ASEAN CPA bagi Anggota IAI

I. SEKILAS   TENTANG  ASEAN CPA

A. Pendahuluan

Profesi Akuntan harus bersiap Menghadapi ASEAN Economic Community

ASEAN Economic Community (AEC) merupakan sebuah komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Latar belakang terbentuknya AEC ini adalah menjaga stabilitas politik dan keamanan negara-negara ASEAN, meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di pasar dunia, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan pembangunan ekonomi yang merata, mengurangi kemiskanan, dan kesenjangan sosial ekonomi, serta meningkatkan  standar hidup penduduk negara anggota ASEAN. Negara-negara yang tergabung dalam AEC memberlakukan system single market dalam melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja. Salah satu dampak dari berlakunya AEC ini adalah terjadinya perdagangan jasa dan tenaga kerja antar negara-negara yang tergabung di ASEAN, termasuk dalam profesi akuntan.
Dalam menghadapi AEC ini, Pusat Pembinaan Profesi Keuangan telah melakukan strategis sebagai berikut:
1. menyiapkan blue print pengembangan profesi akuntansi di Indonesia,
2. memperkuat regulasi profesi akuntansi,
3. meningkatkan kualitas profesionalisme akuntan Indonesia melalui pendidikan profesional berkelanjutan, dan
4. meningkatkan kerjasama dengan asosiasi profesi, regulator terkait dengan profesi akuntansi.
Dengan strategis yang dilakukan untuk menghadapi AEC ini, diharapkan profesi akuntan Indonesia siap bersaing dengan akuntan dari negara ASEAN lainnya.

Sebagaimana diketahui, mulai tahun 2015, Indonesia memasuki era baru yang dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Hal tersebut  membuka peluang  terbukanya kesempatan bagi akuntan profesional warga negara ASEAN untuk dapat memberikan jasanya melintasi negara-negara ASEAN. Sebagaimana telah disepakati dalam Mutual Recognition Agreement (MRA) yang ditandatangani negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2014 silam, jasa akuntansi yang dapat diberikan adalah sepanjang akuntan tersebut tidak menandatangani laporan auditor independen maupun laporan pemberian jasa akuntansi lainnya yang memerlukan izin. Namun demikian, sampai dengan saat ini para pihak masih terus mengkaji kemungkinan pemberian jasa-jasa akuntansi yang lain.

 Seorang akuntan profesional terlebih dahulu harus bersertifikat ASEAN Chartered Professional Accountant (ACPA atau ASEAN CPA) untuk dapat memberikan jasanya di lintas negara ASEAN. Secara garis besar, persyaratan minimum untuk memperoleh sertifikasi ACPA tersebut meliputi kualifikasi pendidikan, persyaratan sertifikasi, persyaratan pengalaman, persyaratan pendidikan profesional berkelanjutan (PPL), dan persyaratan etika yang telah ditetapkan dalam MRA.

Untuk melaksanakan ketentuan MRA tersebut, pada level ASEAN telah dibentuk ASEAN CPA Coordinating Committee (ACPACC). ACPACC merupakan komite yang memiliki otoritas untuk memberikan dan menarik kembali gelar ACPA. Selanjutnya pada level nasional, setiap negara ASEAN membentuk sebuah monitoring committee yang bertugas menetapkan kebijakan, melakukan perancangan, dan mengimplementasikan pelaksanaan MRA pada negara masing-masing. Tugas tersebut antara lain penetapan persyaratan (assessment statement) dan penerimaan permohonan ACPA pada negara yang bersangkutan.

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Keputusan Menteri Keuangan telah membentuk monitoring committee yang disebut sebagai Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI). Direncanakan pada akhir Oktober 2017 AMCI akan menetapkan assessment stament Indonesia. Dengan demikian, diharapkan efektif per November 2017, akuntan profesional di Indonesia sudah dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh sertifikasi ACPA dan memberikan jasanya di negara anggota ASEAN lain.

( Sumber : http://www.pppk.kemenkeu.go.id/News/Details/100  )

B. Tentang AMCI

Back to Homepage

Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 25/PMK.01/2014 tentang Akuntan Beregister Negara terdapat perkembangan yang berpengaruh bagi profesi Akuntansi di Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia telah memasuki era perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN Economic Community pada Desember 2015. Selanjutnya dalam persaingan pasar tunggal ASEAN tersebut, jasa Akuntansi telah disepakati untuk diperdagangkan lintas negara anggota sejak ditandatanganinya MRA on Accountancy pada 24 Agustus 2014. Dimana salah satu hal yang diatur dalam MRA on Accountancy tersebut adalah akuntan publik asing dapat mengajukan izin menjadi akuntan publik atau warga negara asing dapat terdaftar dalam Register Negara Akuntan apabila  telah ada perjanjian saling pengakuan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara asal akuntan publik asing atau warga negara asing tersebut begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan ketentuan article 6 ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Accountancy Services, masing-masing negara anggota ASEAN harus membentuk Accountancy Monitoring Committee. Selanjutnya pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Keuangan telah membentuk Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI) yang mempunyai tugas menetapkan kebijakan, melakukan perancangan dan implementasi Pelaksanaan ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Accountancy Services.

Komite Pemantau Akuntansi Indonesia / Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI) adalah komite yang bertanggung jawab menyelenggarakan hal-hal terkait pelaksanaan Mutual Recognition Arrangament Jasa Akuntansi se-ASEAN (MRA Akuntansi ASEAN), khususnya di negara Indonesia. MRA Akuntansi ASEAN adalah perjanjian saling pengakuan kualifikasi akuntan profesional se-ASEAN. MRA ditandatangani pada 23-25 Agustus 2014 di Myanmar.

Tugas-tugas utama AMCI antara lain memproses permohonan aplikasi untuk menjadi ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA), memelihara register ASEAN CPA serta hal-hal lain yang terkait.

C. Sejarah ASEAN CPA.

Perjalanan MRA Akuntansi ASEAN dimulai sejak ditandatanganinya ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada Desember 1995 sebagai tonggak  perjanjian perdagangan jasa antarnegara ASEAN. Pada Januari 1996, Coordinating Committee on Services (CCS) dibentuk sebagai salah satu wadah negosiasi perdagangan jasa lintas negara ASEAN.

Dalam CCS dibahas negosiasi perdagangan tidak kurang dari 128 sektor jasa, termasuk akuntansi. Dimulai sejak 1996, hasil nyata pembicaraan terkait MRA akuntansi terlihat pada tahun 2009 dengan ditandatanganinya MRA Framework on Accountancy Services di Chan Am Thailand. Dokumen ini pada intinya hanya mengatur prinsip-prinsip perjanjian saling pengakuan jasa akuntansi di ASEAN dan mendorong dilakukannya MRA bilateral di antara negara-negara ASEAN.

Sejak tahun 2011 negara-negara ASEAN kembali membicarakan MRA dengan tujuan merumuskan perjanjian pengakuan yang lebih operasional. Pada 23-25 Agustus 2014 MRA Akuntansi ASEAN ditandatangani di Yangoon, Myanmar oleh 9 (sembilan) negara ASEAN sedangkan Filipina menandatangani MRA pada November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Pada intinya, MRA Akuntansi ASEAN mengatur dua hal penting:

  1. Lingkup perdagangan jasa akuntansi lintas batas negara ASEAN

MRA (Pasal 3) menyatakan bahwa jasa-jasa akuntansi dapat diberikan oleh seorang “Akuntan Profesional” warga negara ASEAN di seluruh negara ASEAN, sepanjang akuntan dimaksud tidak menandatangani laporan auditor independen maupun laporan pemberian jasa akuntansi lainnya yang memerlukan izin

  1. Mekanisme saling pengakuan kualifikasi akuntan profesional antarnegara ASEAN

MRA mengatur bahwa “Akuntan Profesional” yang diakui MRA memberikan jasa akuntansi lintas negara ASEAN adalah seorang akuntan yang telah memperoleh sebutan ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA)

MRA menetapkan persyaratan-persyaratan dan prosedur minimum bagi seorang warga negara ASEAN untuk menjadi ASEAN CPA. Secara garis besar, persyaratan menjadi ASEAN CPA meliputi persyaratan kualifikasi pendidikan, keanggotaan profesi, pengalaman, pendidikan berkelanjutan, dan etika.

D. Menjadi ASEAN CPA

Beradasarkan MRA Akuntansi ASEAN, akuntan Indonesia yang memenuhi persyaratan dapat mengajukan permohonan menjadi ASEAN CPA. Permohonan diajukan kepada AMCI dengan mengisi formulir permohonan serta melengkapi dokumen yang menunjukkan terpenuhinya persyaratan untuk menjadi ASEAN CPA.

Dalam rangka penilaian pemenuhan persyaratan, AMCI dapat meminta dokumen tambahan apabila dirasa perlu dan dengan menyebutkan alasannya. Permintaan tambahan dokumen dilakukan secara tertulis oleh Kepala Sekretariat AMCI dan ditembuskan kepada Ketua AMCI.

E. Registrasi

Pendaftaran silahkan click tautan / link berikut :

http://amci.or.id/?id=Registrasi

Dowload  formulir ASEAN CPA pada link berikut :

Conntact lebih lanjut

Komite Pemantau Akuntansi Indonesia

Accountancy Monitoring Committee Indonesia (AMCI) 
Gedung Djuanda 2 Lantai 19, Jl. Dr Wahidin No.1, Jakarta Pusat, Indonesia
Phone : +6221 – 3452670
Fax     : – 

E-Mail  : info@amci.or.id 

(Sumber : http://www.amci.or.id/)

II. PENDAFTARAN ASEAN CPA BAGI ANGGOTA IAI

A. Pendahuluan

Pendaftaran ASEAN Chartered Professional Accountant (ACPA) bagi Anggota IAI kini telah dibuka. ACPA merupakan tindaklanjut dari ditandatanganinya Mutual Recognition Arrangement on Accountancy Services (MRAA) oleh kesepuluh negara anggota ASEAN pada tahun 2014. Di bawah MRAA, Akuntan Profesional dari seluruh negara ASEAN yangmemiliki kualifikasi dan pengalaman sesuai ketentuan MRAA, dapat mengajukan permohonan untuk menjadi ACPA.

ACPA secara hukum diizinkan untuk memberikan layanan akuntansi di seluruh negara ASEAN (kecuali untuk penandatanganan laporan auditor independen dan penyediaan layanan akuntansi yang memerlukan lisensi domestik) tanpa harus menjalani prosedur pelatihan atau kualifikasi ulang. Sertifikat ACPA akan membuka akses bagi Anggota IAI memasuki pasar di seluruh ASEAN danmenghadirkan peluang baru ke salah satu wilayah ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di dunia.

Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN telah membuka pendaftaran ACPA untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Oktober s/d 25 Oktober 2017. Untuk selanjutnya, batas waktu pengajuan ACPA ke IAI adalah tanggal 15 (lima belas) pada setiap bulannya. Pengajuan yang lewat dari tanggal 15 (lima belas) akan diproses setelah tanggal 15 (lima belas) pada bulan berikutnya.

B. Yang bisa mendaftar sebagai ACPA:

  • Menjadi salah satu warga negara yang termasuk dalam ASEAN.
  • Memiliki sertifikasi profesi akuntansi. Untuk Indonesia: CA, CPA, CPMA.
  • Memiliki  pengalaman bekerja di profesi akuntansi minimal 3 (tiga) tahun dalam 5 (lima) tahun terakhir.
  • Memenuhi persyaratan SKP sesuai ketentuan organisasi profesi. Sebagai anggota IAI, SKP yang harus dipenuhi adalah minimal 30 SKP dalam 1 (satu) tahun dan 120 SKP dalam kurun 3 tahun.

C. Cara mendaftar:

  • Mengisi formulir pendaftaran ACPA dengan menggunakan bahasa Inggris dan dilengkapi dengan dokumen pendukung (Ijazah, sertifikat CA, dan surat keterangan bekerja).
  • Mengirimkan berkas pendaftaran ke kantor pusat IAI: Grha Akuntan, Jl. Sindanglaya no. 1 Menteng Jakarta Pusat.
  • IAI akan melakukan verifikasi dan approval pengajuan ACPA dan selanjutnya diserahkan kepada AMCI (Accountancy Monitoring Comittee Indonesia) untuk dilakukan verifikasi dan approval lanjutan. Proses berikutnya AMCI akan menyerahkan pengajuan ACPA kepada ACPACC (ASEAN Chartered Professional Accountants Coordinating Comittee). Proses di ACPACC memakan waktu 3 (tiga) bulan sampai dengan diterbitkannya sertifikat ACPA.

Berikut disampaikan formulir dan panduan pendaftaran ACPA.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Grha Akuntan, Jl. Sindanglaya no. 1 Menteng Jakarta Pusat. Telp 021-31904232 atau iai-acpa@iaiglobal.or.id.

File Lampiran:

http://iaiglobal.or.id/v03/files/file_berita/1.%20Panduan%20Isian%20Formulir%20ASEAN%20CPA-1.PDF

http://iaiglobal.or.id/v03/files/file_berita/Formulir%20ASEAN%20CPA-2.docx 

( sumber : http://iaiglobal.or.id/v03/berita-kegiatan/detailberita-1030=pendaftaran-asean-cpa-bagi-anggota-iai )

 

 

Sekilas Info tentang Chartered Accountant (CA), Jadwal Ujian CA tahun 2018, Kode Etik Profesi CA, Ketentuan Umum PPL dan yang harus dipenuhi CA Indonesia

Sekilas Info tentang Ujian Sertifikasi Charterred Accountant Jadwal Ujian CA tahun 2018 & Kode Etik Profesi serta PPL CA

%d bloggers like this: